Negara Modern dan Lingkungan Hidup

Negara Modern dan Lingkungan Hidup

Oleh Deddy Arsya

 

(1)

Sebuah suratkabar khusus yang memuat “Chabar ringkas dan pemberian tahoe tentangan harga barang di Alam Minangkabau” mulai terbit pada 1927 di Padang. Suratkabar yang terbit tiap-tiap pekan itu diperuntukkan bagi orang-orang “jang beroesaha tanah,” demikan diberitakan Pandji Poestaka tentangnya. “Akan diberi nama TANI,” kata suratkabar milik Balai Poestaka itu lagi.

Nomor percobaan TANI dikeluarkan 4000 lembar pada bulan Mei tahun itu juga dan dalam bulan Juli nomor pertama telah mulai beredar. Terbitan awal hanya 4 halaman belaka, tetapi pada terbitan tahun 1938 sudah menjadi 16 halaman.

Negara Modern dan Lingkungan Hidup

Isinya terutama memang sesuai dengan tagline-nya di atas. Tetapi, untung bagi kita kini, tidak saja itu, di sana kita juga bisa membaca bagaimana gelombang modernisasi pertanian berlangsung. Teknikalisasi pada perkakas; penggunaan bibit unggul; pupuk dan pestisida. Dan sebuah episteme baru: orang-orang mulai berpikir bahwa cara-cara tradisional sudah harus ditinggalkan dan kemajuan yang dibawa Dienst Landbouw (dinas yang menerbitkan suratkabar ini) mesti direngkuh dengan sedia jika tidak hendak tertinggal laju kereta zaman.

Suratkabar TANI inilah yang memperkenalkan mesin pengirik padi, alat semprot, mesin bajak, dst; kubis putih hongkong, kentang jepang, bawang merah bangkok, bawang perei medan, tomat surabaya, kool cina dan sesawi singapura, juga para, bermacam-macam jeruk, mangga madu, tabak (tembakau), kapuk, dst; memupuk dengan ‘poepoek landbouw’ yang berbagai merek itu, dst; bermacam-macam jenis racun bermacam-macam pula jenis hama, bahkan juga untuk hama sejenis babi dan kera.

Kita sekarang merengkuh semua kemodrenan itu dengan sangat erat seolah-olah tanpa itu tidak akan ada aktivitas bertani kita yang bakal jalan. Kerbau dan sapi tersingkir dari tugas menarik bajak—beruntunglah mereka karena telah dibebaskan dari satu model perbudakan manusia bermilenium lamanya. Kalau Anda berkunjung ke sawah dan ladang, aroma obat akan menguar di udara yang Anda hirup. Berkarung-karung pupuk pabrikan bertumpukan di pondok-pondok untuk pembukaan lahan yang akan datang. Ada tanaman yang bibitnya hanya bisa dibiakkan dari bibit kemasan. Ada jenis-jenis hama yang tidak bisa-bisa ‘mati’, berbiak terus, menjadi hama baru, bermutasi, yang semakin meningkat daya rusaknya dari waktu ke waktu.

Suratkabar ini hadir sebagai salah satu corong utama proyek raksasa bernama “pemberadaban dunia pertanian” yang “terbelakang”. Dengan ‘pengetahuan’ yang disebarkannya inilah ‘pengetahuan pertanian’ kita dibentuknya, setelahnya juga mentalitas dan tindakan-tindakan kita diubahnya. Kini kita menganggap semua itu sebagai pengetahuan kita sendiri tanpa berpikir bahwa semua itu produk dari sebuah zaman yang telah diupayakan menjadi demikian terutama sejak awal-awal abad yang lalu.

 (2)

Di tepi Kilimanjaro, nun di Afrika Timur, manusia telah mengubah apa yang tak patut mereka ubah dari lingkungan alam. Hasilnya, sebuah kehancuran yang parah dan berlanjut terus sampai ke dunia kita sekarang.

Kawasan padang rumput (sabana) Daerah Selatan itu telah jadi tempat bagi ratusan ribu hewan sejak lama, demikianlah dikisahkan Archie Carr dalam The Land and Wildlife of Africa. Gerombolan hyena berebut buruan dengan sekawanan singa. Gajah-gajah berebut rumput dengan antilop. Jerapah memburu pucuk-pucuk pohon di bagian lain. Lalu zebra, kijang dan rusa, juga banteng dan kuda liar, sama-sama terlibat rantai hidup yang sama. Bertahun-tahun, beratus-ratus tahun, kondisi begitulah yang terjadi.

Tetapi, kata Carr lagi, hanya dalam beberapa tahun saja, bermula pada abad ke-20, campur tangan manusia modern membuatnya berubah dengan cepat.

Negara Modern dan Lingkungan Hidup

Negara Modern dan Lingkungan Hidup

Inggris dan Jerman, terutama, membagi-bagi kawasan itu bagai kue ulang tahun. Kedua raksasa Eropa itu terlibat perang yang melelahkan di sana sebagai perpanjangan perang di benuanya. Prajurit-prajurit bersenapang berat dari kedua belah pihak yang kelaparan menembaki apa yang bisa ditembaki untuk mengisi perut mereka. Maka, perang tidak saja menghancurkan sesama manusia yang terlibat sebagaimana pepatah lama kita, “kalah jadi abu, menang jadi arang!” Tetapi, perang juga merusak tumbuhan dan hewan di sekitarnya.

Namun, masa damai tetapi eksploitatif juga sama merusaknya. Setelah perang selesai, Inggris memenangkan perang, dan lantas berkuasa penuh atas kawasan itu. Mereka mengubah suku-suku pengembara setempat menjadi manusia-manusia menetap. Kepemilikan sapi ternak bagi lelaki-lelaki suku menjadi penanda maskulinitas-baru menggantikan hewan hasil buruan. Jika dulu suku-suku pengembara itu memperlihatkan kelayakan untuk mempersunting gadis-gadis dengan pembuktian dalam berburu, kini klan si gadis jauh lebih berminat pada jumlah sapi yang dimiliki calon mempelai pria ketimbang kecerdikan mereka membaca jejak hewan liar atau ketajaman sudut mata mereka menembakkan anak panah dari busurnya.

Akibatnya, kata Carr lagi, kawasan padang rumput itu dipenuhi barak-barak pengembalaan sapi yang dari waktu ke waktu semakin banyak dan meluas bagai panu di pundak. Tidak ada lagi jengkal tanah yang dibiarkan berumput tebal. Akibatnya lagi, kawasan itu kemudian lebih tepat disebut gurun (yang mengepulkan debu setiap diinjak) ketimbang padang rumput yang hijau dan segar.

(3)

Selandia Baru, beribu tahun telah menjadi taman firdaus raksasa, diselimuti rimbaraya lebat dengan berbagai flora dan fauna yang khas. Ketika kawasan itu diduduki orang-orang Maori dari bangsa Polinesia selama 400 tahun, tak ada perubahan yang menimbulkan malapetaka bagi lingkungan alam di situ.

Tetapi kedatangan rombongan Captain Cook pada 1769 telah mengubah lingkungan yang sama hingga hampir tak dapat dipulihkan lagi. Dalam Ecology: Understanding Science and Nature, dikisahkan, pada kunjungannya yang kedua ke selandia baru pada tahun 1773, dan lagi pada tahun 1777 kapten kok membawa domba, kambing babi unggas kentang kubis loba dan tumbuhan serta binatang asing lainnya. Kunjungan penjelajah lain serta para penangkap paus membanjiri pulau-pulau itu dengan tumbuhan dan binatang asing lebih banyak lagi.

Pemasukan formal kehidupan asing melaju pada abad berikutnya. Penduduk Selandia Baru berusaha untuk menciptakan kembali corak corak yang paling mereka kemarin di negeri asalnya. Mereka mencoba membuat kelompok pulau di laut selatan itu menjadi “negeri Inggris tiruan”. Mereka membawa sekitar 130 jenis burung 30 diantaranya berhasil menetap.

Mereka juga membawa masuk berbagai mamalia dari Eropa. Dari 48 mamalia yang dibawa masuk, 25 telah menjadi liar, termasuk keturunan binatang peliharaan seperti babi, kuda, domba, kambing, dan kucing. Populasi binatang pemakan rumput yang bertanduk menjadi luar biasa besarnya. Pemakan rumput itu, bersama kambing dan babi liar, kini merusak hutan yang telah terbentuk selama berabad-abad. Oposum Australia, atau khusus, yang dibawa masuk pada tahun 1858 sebagai sumber daya bagi industri kulit berbulu, kini menjadi hama paling buruk di Selandia Baru, karena memakan hutan dari atas sampai ke bawah. Begitu berlimpahnya jumlah kuskus, tanpa kehadiran pemangsanya, sehingga tiang listrik harus dilapisi dengan plat besi untuk menghalangi binatang tersebut agar tidak memanjatnya dan menyebabkan terjadinya hubungan singkat.

Mengenai tanaman, sekitar 400 sampai 600 jenis telah dibawa ke Selandia Baru, termasuk beberapa yang menguntungkan secara ekonomis tetapi telah menyingkirkan vegetasi asli. Banyak tanaman yang dibawa itu berkembang bagaikan di dalam mimpi buruk. Selada air dari Eropa, misalnya, yang pada habitat aslinya hanya mencapai ukuran sedang, di Selandia Baru mengembangkan tangkai sebesar pergelangan tangan manusia. Berbiak liar tanpa kehadiran binatang pemakannya. Selada ini bisa tumbuh sepanjang 4 meter dan karenanya seringkali merintangi sungai, menghalangi pelayaran, menutupi danau dan telaga, dan menyumbat irigasi.

Selandia Baru telah menjadi panggung, bukan hanya bagi satu ledakan ekologi, tetapi juga banyak gejolak dan perubahan lingkungan alam yang ditimbulkan oleh campur tangan manusia yang serampangan dan tak mengerti akan sistem kerja alamraya.

(4)

“Bumi adalah tanah airku: janganlah mencoba mengubah tatanannya,” kata sebaris puisi Robert Browning. Tetapi, siapa pula yang mau mendengarkan ilusi penyair?

Dari tiga kasus di atas kita tahu, kekuasaan negara modernlah yang bekerja paling efektif untuk mengubah lingkungan alam, bumi kita ini. Baik dengan sejenis pemaksaan (represif) maupun dengan cara persuasif.

Bukannya kekuasaan tradisional tidak melakukan itu sebelumnya. Banyak juga contoh yang bisa dikatakan tentang bagaimana raja-raja tradisional mengambil kebijakan keliru yang berefek panjang bagi lingkungannya; yang membuat suatu kerajaan atau dinasti bahkan sampai jatuh karena didahului oleh lingkungan alamnya yang hancur; yang menjadikan suatu tatanan sosial ambruk. Tetapi perubahan yang diciptakannya tidak pernah berlaku sebegitu dramatis, mendalam, dan semeluas ketika modernitas dengan negara modernnya hadir dengan proyek-proyek besar penaklukan alam.

Dalam alam berpikir tradisional, ada cukup banyak tabu yang menghalangi kesewenang-wenangan manusia pada alam dilakukan dengan keleluasan penuh. Tapi kini kita hidup di masa di mana tabu-tabu itu lenyap jauh. Jin-jin penunggu hutan telah lama hilang diusir pikiran-pikiran baru. Dewa-dewa lama, yang dikutuki Tan Malaka sebagai mimpi buruk bagi akal-rasional, pada titik ini kadang ada gunanya juga untuk membiarkan bagian-bagian tertentu dari lingkungan hidup kita lestari.

Sekalipun begitu, bukan berarti pula kita butuh ‘ketakukan lama’ itu menghantui kita lagi. “Kita butuh sebuah kesadaran yang lahir dari kenyataan-objektif,” kata sebuah seruan klise. Yang tidak klise memang ialah menunaikan kesadaran itu pada diri masing-masing kita.

“Hanya saja, kesadaran personal jelas tidak berarti apa-apa sekarang, Tuan-tuan,” kata sebuah seruan lain. Sementara kita tidak punya banyak waktu lagi. Sementara bumi semakin merana jika harus menunggu kerja-kerja kecil yang tak berdaya di hadapan negara-negara modern itu, di mana korporat-korporat rakus berlindung di baliknya atau justru melindunginya? “Tidakkah mereka itulah yang harus paling bertanggung jawab,” kata sebuah gugatan yang terdengar begitu progresif.

“Untuk menghadapi masalah kerusakan lingkungan alam yang semakin pelik, kita tidak boleh pesimis!” kata seorang profesor pada sebuah kuliah di aplikasi daring. Seklise apa pun itu, dia mungkin benar. Mau apa lagi.

Pandai Sikek, 2022.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top