Buku-Buku ini Baru Bisa Dibaca 100 Tahun Lagi, Dipastikan Kamu Tidak Dapat Membacanya

Buku-Buku ini Baru Bisa Dibaca 100 Tahun Lagi, Dipastikan Kamu Tidak Dapat Membacanya

Beberapa penulis terkenal di dunia telah menulis naskah yang tidak akan diterbitkan selama satu abad, mengapa?

Minggu pagi, di sebuah hutan di utara Oslo, Norwegia, lebih dari 200 orang berkumpul untuk menyaksikan sebuah upacara. Mereka berjalan dalam sebuah prosesi—ada yang bersama anjing dan ada pula bersama anak-anak mereka—di sepanjang jalan berkerikil, diarahkan oleh anak panah di tanah dari serbuk kayu yang ditaburkan. Angin meniupkan aroma daun pinus yang serupa jarum, kayu yang dibakar, dan kopi Norwegia yang pekat.

Di tempat tujuan mereka, di hutan yang baru saja ditanami, orang-orang duduk atau berjongkok di lereng yang dihiasi pohon cemara. Setiap pohon masih setinggi sekitar 1 m (3 kaki), tetapi suatu hari nanti, ketika pohon cemara itu berukuran lebih dari 20-30 kali lipat, akan menjadi kertas untuk koleksi buku-buku khusus. Semua orang di sana tahu, tidak akan melihat hal itu terjadi dan tidak akan pernah bisa membaca buku-buku tersebut.

Ini upacara peresmian “Perpustakaan Masa Depan 2022,” sebuah proyek seni 100 tahun yang dibuat untuk memperluas perspektif orang tentang waktu dan tugas mereka untuk anak cucu. Sejak 2014, seniman Skotlandia Katie Paterson bersama rekannya dari Norwegia Anne Beate Hovind mengundang penulis terkemuka untuk mengirimkan naskah setiap tahun hingga tahun 2113. Kemudian, seabad setelah proyek ini dimulai, semuanya akan diterbitkan.

Dimulai dengan penulis Margaret Atwood, yang menulis cerita berjudul Scribbler Moon, dan sejak saat itu perpustakaan telah menerima kiriman karya dari seluruh dunia, seperti karya-karya dari novelis Inggris David Mitchell, penyair Islandia Sjón, penyair Turki Elif Shafak, Han Kang dari Korea Selatan, dan penyair Vietnam-Amerika, Ocean Vuong.

Tahun ini, penulis Zimbabwe Tsitsi Dangarembga dan penulis Norwegia Karl Ove Knausgaard datang ke hutan tersebut untuk menyerahkan kisah-kisah mereka bersama penulis sebelumnya, Mitchell dan Sjón. Mereka dilarang mengungkapkan isi karya masing-masing, hanya boleh membagikan judulnya saja. Karya Dangarembga berjudul Narini and Her Donkey. Narini berasal dari bahasa Zimbabwe yang berarti tak terhingga. Sementara Knausgaard menyerahkan judul yang lebih misterius, yaitu Blind Book.

Semua naskah akan disimpan selama hampir satu abad di dalam laci kaca yang terkunci di sudut tersembunyi perpustakaan umum utama Oslo, di dalam gudang kayu kecil yang disebut Silent Room. Pada tahun 2114, laci-laci tersebut akan dibuka, pohon-pohonnya ditebang,  dan 100 cerita yang tersembunyi selama satu abad akhirnya akan diterbitkan sekaligus.

Buku-Buku ini Baru Bisa Dibaca 100 Tahun Lagi, Dipastikan Kamu Tidak Dapat Membacanya
Katie Peterson di hutan Oslo. (Jola Mcdonald)

Para penulis dan semua orang yang berada di Oslo pada hari Minggu itu tahu, mereka hampir pasti tidak akan hidup untuk menyaksikannya.

“Ini adalah proyek yang tidak hanya memikirkan kita sekarang, tapi juga mereka yang belum lahir,” jelas Paterson.

“Sebagian besar penulisnya bahkan belum lahir,” imbuhnya.

Perpustakaan Masa Depan bukanlah karya seni Paterson yang pertama membahas hubungan manusia dengan waktu jangka panjang. Dia menelusuri ketertarikannya pada tema ini sejak usia 20-an, ketika dia bekerja sebagai pelayan kamar di Islandia, dan terpukau oleh pemandangan luar biasa di sekitarnya.

“Kamu hampir bisa membaca waktu di lapisan-lapisannya. Kamu bisa merasakan matahari tengah malam dan energi bumi. Sungguh pemandangan yang sangat indah, agung, dan membangkitkan semangat,” katanya.

Hal ini menghasilkan salah satu karya pertamanya, Vatnajokull (suara): nomor telepon yang dapat dihubungi siapa saja untuk mendengarkan pencairan gletser Islandia. Tekan nomor tersebut, dan kamu akan diarahkan ke mikrofon di bawah air di laguna Jökulsárlón, pesisir selatan Islandia, tempat gunung es berwarna biru terlepas dan mengapung ke laut.

Sejak saat itu, Paterson telah menjelajahi rentang waktu yang lebih dalam dari berbagai sudut pandang, baik secara geologis, astronomis, maupun humanis. Salah satu pameran terbarunya di Edinburgh, Requiem di Ingleby Gallery, menampilkan 364 botol debu yang telah dihancurkan, masing-masing mewakili momen yang berbeda di masa lampau. Botol #1 adalah sampel butiran presolar yang lebih tua dari matahari, diikuti oleh bubuk batu berusia empat miliar tahun, karang dari laut prasejarah, dan jejak-jejak lain dari masa lampau.

Beberapa pengunjung diundang untuk menuangkan salah satu botol ke dalam guci di tengah. Di kemudian hari, guci-guci tersebut mewakili usia umat manusia, menangkap pencapaian manusia—tembikar Yunani atau patung suku Maya. Juga momen-momen yang lebih gelap—butiran pupuk fosfor berwarna biru cerah, mikroplastik dari bagian terdalam lautan, atau ranting pohon yang kena radiasi dari Hiroshima.

Pelajaran jangka panjang

Dari semua karyanya yang mengeksplorasi jangka panjang, Perpustakaan Masa Depan adalah proyek yang paling mungkin dikenang sepanjang masa. Memang, proyek ini sengaja dibuat untuk itu. Dan tahun ini, pemimpin kota Oslo menandatangani kontrak yang secara resmi mengikat mereka dan penerusnya untuk melindungi hutan dan perpustakaan selama 100 tahun ke depan.

Cara Paterson dan para kolaboratornya merancang proyek ini dapat menjadi pelajaran yang lebih luas bagi seluruh dunia, tentang bagaimana membuat sesuatu bertahan lama, dan apa yang diperlukan untuk menginspirasi orang untuk berpikir melampaui gangguan jangka pendek.

Proyek Perpustakaan Masa Depan, karena tidak hanya mendorong perspektif berpikir jangka panjang. Tetapi juga mengundang semua orang untuk merenungkan tugas mereka terhadap anak cucu dan apa yang mereka tinggalkan untuk generasi mendatang.

Selama delapan tahun terakhir, proyek ini telah menumbuhkan komunitas yang penuh semangat di samping pepohonan. Komunitas ini juga membantu mendukung keberlangsungan proyek itu. Ada ratusan orang terlibat, sehingga proyek ini dapat dengan mudah berlanjut selama 100 tahun dan seterusnya.

“Perpustakaan Masa Depan dibangun oleh banyak tangan,” ujar Paterson.

Musnah atau diterbitkan?

Selama satu abad ke depan, para penulis juga perlu beradaptasi setiap tahunnya. Sebagai contoh, kelompok penulis saat ini tahu dengan pasti bahwa mereka tidak akan hidup untuk melihat buku-buku mereka diterbitkan. Bagi Mitchell, hal ini memungkinkannya untuk memasukkan lirik lagu The Beatles yang sudah tidak lagi memiliki hak cipta, Here Comes the Sun, sebuah detail cerita yang tidak sengaja ia ceritakan di tahun 2017.

Begitu Knausgaard yang bergurau mengenai kegembiraannya karena tidak perlu mengkhawatirkan para kritikus sastra, dan Dangarembga menggambarkan sebuah perasaan bebas.

“Jika mereka memutuskan kapan pun brankas itu dibuka, bahwa ini bukan yang ingin mereka terbitkan, hal itu tidak akan mengancam keberadaan saya,” kata Dangarembga.

Pada akhirnya, Perpustakaan Masa Depan adalah sebuah ungkapan harapan.  Sebuah pernyataan keyakinan akan kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan bagi anak-anak kita dalam jangka waktu yang panjang.

Paterson mengatakan, meskipun dia sendiri tidak akan pernah membaca buku-buku tersebut, setidaknya ada satu peserta upacara yang mungkin akan membacanya, yaitu putranya yang akan berusia 90-an tahun pada Abad ke-22. Meski putra Paterson belum mengetahuinya, tetapi tempat ini, hutan, dan komunitas yang berkumpul di sini setahun sekali, akan menjadi bagian dari kehidupan dia dan ibunya selama beberapa dekade ke depan. Sebuah benang merah yang membentang di sepanjang hidup mereka, dan mungkin jauh di masa depan. ***

 

Feature ini diterjemahkan dari bahasa Inggris berjudul The Norwegian library with unreadable books yang ditulis oleh Richard Fisher (Jurnalis senior BBC Future) dan telah terbit di bbc.com.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top