Sekolah Jam 5 Pagi, Kebijakan Tanpa Pertimbangan Sains dan Kesehatan Remaja

Sekolah Jam 5 Pagi, Kebijakan Tanpa Pertimbangan Sains dan Kesehatan Remaja

Pendidikan di Indonesia masih memiliki berbagai polemik. Terkini, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menuai sorotan atas instruksi mereka untuk mengubah jam masuk sekolah menjadi jam 5.00 pagi, terutama bagi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Hal ini dilakukan Gubernur NTT Viktor Laiskodat sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan sektor pendidikan provinsi tersebut. Kebijakan ini sudah diuji coba di sepuluh sekolah – meski kemudian direvisi menjadi jam 5.30 pagi.

Banyak pihak mengkritik kebijakan ini, termasuk akademisi, politikus, serikat guru, lembaga perlindungan anak, dan bahkan orang tua serta pelajar. Mereka menganggap perumusan kebijakan ini tak hanya minim deliberasi dan partisipasi masyarakat, namun juga dibuat secara terburu-buru dan tanpa kajian akademik yang jelas.

Peneliti pendidikan sains di University of Western Australia, Hermina Manlea, dan dosen senior Humanitarian Emergency and Disaster Management, Charles Darwin University, Jonatan A Lassa, mengungkapkan konsep masuk sekolah pagi dengan narasi ala pemerintah NTT perlu juga dibangun di atas konsep medis dan pendidikan.

Beberapa pertanyaan mendasar yang perlu mereka jawab, misalnya, adalah bagaimana seharusnya jam sekolah diatur? Apa kata sains terkait jam tidur pelajar dan capaian akademik mereka?

Jika pemerintah NTT gagal mempertimbangkan hal-hal di atas, alih-alih mendongkrak capaian pendidikan, kebijakan ini justru bisa mengancam kesehatan remaja NTT serta kesejahteraan mereka dalam menempuh pendidikan.

“Mengingat penetapan jam sekolah adalah domain kebijakan publik, maka hal ini perlu berlandaskan pemahaman terkait kebutuhan anak dan remaja dari berbagai sisi. Berkaca dari literatur yang ada, kami berpandangan bahwa masuk sekolah pada pukul 5 pagi mengancam kesehatan, kebutuhan tidur remaja, serta kemampuan kognitif,” ungkap Hermina Manlea dan Jonatan A Lassa dalam artikel The Conversation.

Ia menjelaskan, dalam menimbang kebutuhan tidur, misalnya, penting untuk memahami bahwa setiap manusia memiliki jam biologis, atau biasa disebut dengan “ritme sirkadian” (circadian rythm).

Bukti sistematis ini pun telah diuraikan secara mendalam oleh para pemenang Hadiah Nobel Kedokteran 2017 yakni Jeffrey C. Hall, Michael Rosbash, dan Michael W. Young. Riset-riset mereka membuktikan adanya mekanisme biokimia yang mengontrol ritme fisiologis makhluk hidup – kapan mengantuk hingga kapan tubuh terjaga penuh – sesuai stimulus lingkungan dan cahaya.

Matthew Walker, profesor neurosains di University of California, Berkeley di Amerika Serikar (AS) juga mengangkat tentang peran ritme sirkadian ini dalam bukunya Why We Sleep: The New Science of Sleep and Dreams (2017) yang membahas alasan ilmiah mengapa tidur itu penting.

Dalam konteks remaja usia SMA, secara biologis mereka tengah memasuki usia pubertas yang dinamis. Kelompok ini memiliki tantangan besar karena harus berjuang keras untuk bangun pada pagi hari. Riset menunjukkan bahwa ketika anak muda mulai pubertas, jam biologis mereka bergeser; mereka biasanya cenderung tidur lebih larut akibat pergeseran ritme biologis.

Perubahan ritme biologis dan waktu tidur tak teratur ini, ditambah hal-hal yang umum terjadi pada periode remaja – termasuk penggunaan gawai, tuntutan mengerjakan PR, hingga kebutuhan hiburan televisi dan film – menyebabkan waktu tidur mereka kian menipis. Sebagaimana yang diungkap studi Universitas Harvard di AS, dinamika ini menyulitkan remaja untuk mendapatkan tidur berkualitas dan rutin tiap malam.

American Academy of Sleep Medicine dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di AS, misalnya, merekomendasikan remaja berusia 13-18 tahun untuk tidur secara teratur 8-10 jam per hari demi kesehatan yang baik.

“Remaja yang kurang tidur lebih mungkin mengalami gangguan metabolisme dan berkorelasi dengan kelebihan berat badan, kesulitan melakukan aktivitas fisik sehari-hari, gejala depresi, keterlibatan dalam perilaku berisiko yang tidak sehat seperti kecanduan alkohol, merokok tembakau, menyalahgunakan obat-obatan terlarang, serta prestasi buruk di sekolah,” jelas mereka.

Epidemiolog di CDC, Anne Wheaton beserta timnya melakukan analisis sistematis (systematic review) atas 38 penelitian terkait kebijakan jadwal sekolah dan dampaknya pada remaja. Secara umum, ada kesepakatan dari para peneliti bahwa jam sekolah ideal itu mulai lebih telat – misalnya sekitar jam 8.30 atau 9.00 pagi. Hal ini memberikan waktu bagi remaja SMA agar tidur dengan layak dan bahkan punya waktu cukup untuk sarapan pagi, serta melakukan persiapan yang baik untuk sekolah.

Hal di atas juga menjadi alasan banyak negara, dari Australia hingga negara-negara Skandinavia, memulai sekolah SMA pada jam 8.30 ke atas. Meski di Amerika Serikat sedikit lebih awal – kebanyakan sekolah mulai pukul 8.00 pagi – Perhimpunan Dokter Anak Amerika secara tegas menyarankan sekolah mulai minimal pukul 8.30 pagi.

Uji coba lain di Inggris yang terstruktur selama periode empat tahun (2010-2014) menemukan bahwa memindahkan waktu masuk sekolah dari standar waktu jam 9.00 ke jam 10 pagi (pulang jam 14.00) menghasilkan kenaikan sebesar 12% dalam capaian akademik siswa.

Secara umum, riset di atas juga menunjukkan bahwa jam masuk sekolah yang lebih siang berkaitan dengan naiknya tingkat kehadiran di sekolah, lebih sedikitnya keterlambatan, lebih sedikit anak yang tertidur di kelas, nilai lebih baik, dan lebih sedikit kecelakaan kendaraan bermotor.

Tapi tak hanya itu, dampak dari jam mulai sekolah yang terlalu pagi, seperti kebijakan baru dari pemerintah NTT, berisiko secara sistematis bukan hanya untuk murid.

Para guru perkotaan yang memiliki keluarga kecil dengan anak usia dini dan usia sekolah tanpa dukungan sosial yang memadai, tidak kalah sengsaranya. Guru-guru dan orang tua akan kehilangan waktu tidur dan mesti bangun lebih awal beberapa jam untuk mempersiapkan anak-anaknya dan keluarganya – ini pun juga bisa mengancam kesehatan mereka pada masa tua.

“Seperti kata pepatah, the road to hell is paved with good intentions (jalan menuju neraka dibangun dengan niat baik). Meski tujuan pemerintah NTT adalah meningkatkan capaian akademik siswa, kebijakan yang asal dibuat tanpa mempertimbangkan kajian tentang kebutuhan remaja justru akan menjerumuskan mereka dalam ancaman kesehatan dan kemunduran pendidikan,” pungkas mereka.  (CGK/The Conversation)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top