Pemilu 2024: Jurnalisme Bernilai dan Memperbaiki Kualitas Berpendapat

Pemilu 2024: Jurnalisme Bernilai dan Memperbaiki Kualitas Berpendapat

Dalam proses demokrasi di Indonesia saat ini, yang puncaknya Pemilu dan Pemilihan Serentak 2024, media (pers) sebagai pilar keempat demokrasi harus mampu menunjukkan kualitas, baik secara personal sebagai jurnalis maupun karya jurnalistiknya. Dimana, jurnalis dan karya jurnalistiknya harus memberi nilai bagi demokrasi, serta mampu memperbaiki kualitas berpendapat masyarakat.

Salah satu fenomena dalam perkembangan media dan komunikasi saat ini, amplifikasi algoritma yang mempengaruhi kualitas kebebasan berpendapat. Amplifikasi algoritma dari berbagai platform media sosial yang dipelototi lebih dari 10 jam perhari oleh tiap orang memunculkan berbagai pendapat yang sulit dibedakan benar atau tidak benarnya. Karena tidak ada semacam proses editorial atau penyuntingan yang ketat dari platform tersebut, sehingga semua orang bebas menyampaikan pendapatnya dan menafsirkan pendapat orang lain dengan asumsi dan pikiran masing-masing.

Dari lalu lalang pendapat yang berseliweran tidak jelas dan berkabut di berbagai media sosial, terkadang pers, kualitas seperti apa yang akan diharapkan. Sehingga titik lemah kita saat ini, yaitu menurunnya kualitas kebebasan berpendapat, terutama setiap Pemilu dan Pemilihan Serentak. Kebebasan berpendapat ini tidak bisa disamakan dengan amplifikasi algoritma internet. Untuk itu, kebebasan berpendapat harus diperbaiki dengan tidak mengikuti algoritma yang mengamplifikasi narasi-narasi yang memecah belah, penuh kemarahan dan kebencian.

Di sinilah, salah satu tugas media (pers), yaitu menghadirkan jurnalisme bernilai di tengah-tengah masyarakat. Jurnalisme bernilai memberi makna pada kebebasan berpendapat dengan benar dan membantu masyarakat memahaminya dengan benar pula. Sikap independensi dan objektif yang dibangun jurnalis memungkinkan untuk memperbaiki kualitas berpendapat dalam bingkai jurnalisme bernilai tersebut.

Dari itu, setiap media mesti mengusung jurnalisme bernilai ini, setidaknya untuk memperbaiki kualitas kebebasan berpendapat di Sumbar. Dimana jurnalisnya bukan lagi konten kreator yang memproduksi berita viral namun tidak bernilai. Produk jurnalistik yang dihasilkan oleh media mainstream atau pers tentu harus berbeda dan mampu memperbaiki kualitas, serta memberi nilai pada kebebasan berpendapat.

Dalam menyajikan jurnalisme bernilai untuk memperbaiki kualitas kebebasan berpendapat tersebut, jurnalis harus memperbarui pengetahuannya dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi. Kecerdasan buatan atau artificial intellegence (AI) menjadi tantangan baru dalam demokrasi dan jurnalisme.

Proses evolusi, mau tidak mau, akan memaksa kita menyerahkan sebagian urusan otak dan perasaan kepada teknologi. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan ini semakin mendekati keseharian kita, sehingga kita dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan. Begitu juga jurnalisme dan platform medianya. Sungguh berat tantangannya ke depan, di tengah jurnalis yang malas membaca, dituntut pula untuk memperbarui pengetahuan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Untuk memperbaiki kualitas kebebasan berpendapat, maka jurnalisme bernilai dan penerapan teknologi AI dalam konten media sangat dibutuhkan. Apalagi, pemilu di Indonesia selalu berakhir dengan keterbelahan masyarakat dari perpedaan pendapat yang tidak dimoderasi di media sosial dan media lainnya. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top