Kabar Baik, Bukan Berita?

Kabar Baik, Bukan Berita?

Oleh Wiztian Yoetri

Alumni Promag Komunikasi
Fisip Univ. Andalas

 

Jhon Tiemey, seorang jurnalis senior The New York Times, mensinyalir kecendrungan media yang memberi porsi lebih besar pada “berita buruk” belakangan mulai dipertanyakan, terutama eksesnya.

Adagium yang sudah menjadi klasik di dunia jurnalistik; bad news is good news, kabar buruk adalah berita yang bagus, perlahan di sejumlah media besar di Inggeris dan Amerika bergeser ke berita-berita baik dan berita positif.

Ada pernyataan menarik dari Sean Dagan Wood, pemimpin redaksi The Positif News,”Fokus (industri) berita buruk biasanya bertujuan baik, yang berangkat dari komitmen utama sebagai kontrol sosial, namun bagi media massa secara keseluruhan, mentalitas seperti ini, sudah melenceng terlalu jauh. Orang-orang sudah bosan dengan negativitas media.”

Menurut Tierney, betapapun kabar-kabar buruk itu memang nyata, akan tetapi tidak sedikit yang cemas hal itu bisa berdampak buruk bagi psikologi para pembaca. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, ketika kekerasan verbal dan hoax bersiliweran seperti tak berbendung.

Washington Post, misalnya meluncurkan The Optimist, kompilasi mingguan berita-berita “yang menginspirasi”, The Guardian membuat rubrik “Solution and Innovations.” Tak ketinggalan New York Times pun tampil dengan halaman “The Week in Good News” pada akhir Desember tahun lalu.

Komitmen inilah, agaknya yang menjadi titik balik, perubahan secara realistis, misi sejumlah media di Inggris dan Amerika dari negatif ke positif lewat pendekatan baru jurnalisme.

Adakah pengaruh berita terhadap oplah? Sebagai media yang mengkonsentrasikan diri pada berita-berita baik, oplah The Positif News (TPN) mencapai 50 ribu eksemplar. Artinya TPN sebagai fokus memberitakan perubahan positif diberbagai bidang kehidupan seperti, ekonomi baru, agrikultur organik, dan energi terbarukan tetap eksis. The Positif News pun memiliki beberapa edisi seperti di Spanyol , AS, Argentina dan Hongkong.

Selain The Positif News, media lain di Amerika yang mengkhususkan diri pada berita positif adalah koran Good News Network. Menurut Jessica Prois, editor eksekutif GNN, bahwa dari segi bisnis aktifitas jurnalistik ini cukup menjanjikan. Konten berita positif lebih banyak dibagikan dibandingkan berita konvensional.

Bentuk jurnalisme positif ini, selain untuk melawan negativitas dalam media arus utama dengan memberitakan orang-orang serta inisiatifnya dalam menciptakan dunia yang sejahtera dan berkelanjutan, juga membuat media terlibat mempercepat proses ditemukanya solusi potensial untuk masalah-masalah yang sedang dihadapi publik.

Lantas, alasan apa dari dulu berita berpusat pada hal-hal negatif? Menurut Tom Stafford, sebagaimana dikutip The Guardian, karena ada hubungannya dengan instink ketakutan manusia. Konsekwensinya adalah, berita negatif secara umum lebih menarik perhatian. Selanjutnya pengajar Sheffield University itu, menekankan, berita negatif mengindikasikan keadaan tidak berjalan dengan baik, karena itu kita harus bertindak.

Sinyalemen Jhon Tieney, sebagai pembuka tulisan, adalah sebuah kegelisahan pengelola media, tentang peran yang lebih strategis pekerja jurnalistik hari ini. Media tidak sekadar memberitakan peristiwa (fact) atau pendapat seseorang (opini), namun juga memikirkan ekses buruk bagi psikologi pembaca sebagai tanggung jawab moral. Bila, dulu bad news is good news, kabar buruk adalah berita yang bagus dan berita baik itu berita bukan berita? Hari ini berita baik, adalah kabar baik. Adalah informasi positif yang membangun optimisme dan kecerdasan.**

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top