Evaluasi Penghijauan IKN: Masih Berorientasi Kebun Kayu, Bukan Hutan Hujan Tropis

Evaluasi Penghijauan IKN: Masih Berorientasi Kebun Kayu, Bukan Hutan Hujan Tropis

Presiden Joko Widodo dalam paparannya tentang Ibu Kota Negara (IKN) baru, Nusantara, pada Oktober 2022 lalu sempat mengatakan:

“Nusantara dibangun dengan konsep kota pintar masa depan berbasis alam dengan 70% area di IKN merupakan area hijau…. kita harapkan nanti menjadi hutan hujan tropis lagi, tropical rainforest lagi di Kalimantan.”

Pernyataan Presiden di atas merupakan ambisi yang luar biasa, tapi pelaksanaannya sungguh menantang.

Gagasan IKN sebagai kota hutan atau forest city mengindikasikan bahwa keberadaan ekosistem hijau di dalam sebuah kota bukanlah ruang terbuka hijau biasa.

Forest city memiliki parameter ‘hutan hujan tropis’ yang tersusun bukan dari satu atau beberapa spesies tumbuhan, melainkan berbagai jenis vegetasi dengan beraneka strata ataupun tutupan yang saling menopang satu sama lain. Ini belum dihitung dengan keanekaragaman famili satwa, mulai dari serangga hingga mamalia kecil di dalamnya.

Nah, untuk mencapai tujuan ini, pemerintah memulai rehabilitasi hutan dan lahan IKN besar-besaran mulai 2022.

Namun, sejauh ini rehabilitasi sudah mencapai 941 ha–angka yang masih jauh panggang dari api. Kebutuhan rehabilitasi hutan untuk seluruh wilayah IKN mencapai 75% (sekitar 192 ribu ha) dari total luas wilayah Nusantara sebesar 256 ribu ha. Otoritas IKN bahkan memprediksi target rehabilitasi (secara luas lahan saja) baru bisa rampung pada 88 tahun kemudian.

Saya bersama tim dari Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur dipercaya menjadi tim penyusun rancangan teknis Rencana Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Nusantara, sekaligus mengawasi pelaksanaannya.

Pelaksanaan rehabilitasi tahun lalu saya anggap sebagai program “Bandung Bondowoso” (merujuk ke cerita rakyat tentang Candi Prambanan). Sebab, dalam waktu yang singkat, sekian hektar lahan sudah tertanami. Namun, masih ada beberapa persoalan krusial di lapangan yang perlu dibenahi.

Jika pola kerja ngebut ini tidak berubah, kita tidak akan menghasilkan hutan hujan di IKN, melainkan hanya kebun kayu dan kebun buah.

Dalam tulisan ini, saya memaparkan evaluasi rehabilitasi hutan di IKN berdasarkan pengamatan di lapangan.

1. Pola tanam masih seragam

Saya dan tim mengamati pola tanam di satu blok penanaman masih seragam. Ada satu blok yang semuanya ditanami meranti. Ada juga satu jalur penanaman yang ditanami tanaman buah sejenis.

Jika ini dilakukan, maka IKN hanya akan berisikan kebun buah ataupun kebun kayu, bukan hutan hujan tropis. Kita memerlukan pemikiran out of the box untuk merealisasikan gagasan forest city Presiden Jokowi.

Selain untuk menghasilkan hutan, penanaman secara acak (multijenis) juga bertujuan untuk meredam risiko serangan hama ataupun patogen. Lantaran pola penanamannya yang masih sejenis, saya mengamati banyak daun tanaman di lokasi rehabilitasi berlubang sehingga rentan mati.

Saya sempat menanyakan beberapa pekerja yang menanam. Mereka mengaku hanya bertugas menanam apapun yang ada di dalam plastik. Tidak ada arahan langsung untuk menghijaukan satu jalur ataupun blok dengan jenis ataupun strata tanaman yang berbeda.

Agar masalah tidak terulang, saya dan tim merekomendasikan pengirim menempatkan bibit tanaman secara acak sejak di persemaian sebelum menyerahkannya kepada tim penanam. Sebab, saya merasa akan sulit dan memakan waktu bagi penanam untuk memilih-milih lagi bibit yang akan ditanam.

2. Bibit dan pupuk belum memadai

Rehabilitasi hutan hujan tropis–apalagi seluas ratusan ribu ha–adalah proyek raksasa nan panjang. Jika Indonesia ingin mempercepat rehabilitasi, maka pelaksanaannya harus dengan cara-cara yang inovatif.

Salah satu contohnya adalah pemilihan bibit. Selain sehat dan berkualitas, bibit yang ditanam di IKN juga harus berusia lebih besar dibandingkan upaya rehabilitasi biasa agar lebih cepat bertumbuh. Misalnya, bibit harus berketinggian 50 cm hingga 1 m.

Sayangnya, saya dan tim menemukan banyak bibit yang terlalu kecil dan tak siap tanam, rata-rata tingginya baru 20-30 cm. Saat ditanya mengapa, penanggung jawab beralasan bibit yang besar tidak tersedia.

Ke depannya, alasan seperti ini tak semestinya muncul kembali. Penanggung jawab semestinya mencari bibit-bibit berkualitas dan besar.

Kita jangan bergantung pada bibit yang tersedia di pasaran. Semua pihak yang berkepentingan harus aktif berkolaborasi untuk mencari dan membudi daya bibit-bibit berkualitas berbagai jenis tanaman asli dari lokasi sekitar IKN: Kebun Raya Balikpapan, Taman Hutan Raya Bukit Suharto, Hutan Lindung Sungai Wain.

Selain bibit, penanaman yang optimal membutuhkan bahan kompos atau organik yang terurai dengan sempurna. Jika hal ini luput diperhatikan, bahan organik justru berisiko membuat tanaman mati.

Sayangnya, di lahan penanaman IKN banyak kompos yang belum terdekomposisi dengan benar. Dengan mata kepala sendiri, saya melihat sisa tandan sawit bergeletakan di beberapa lokasi penanaman.

Saya juga menyaksikan pupuk kandang yang masih ‘panas’ alias belum terurai dengan sempurna (menyerupai tanah). Aplikasi pupuk panas tak hanya membahayakan tanaman di lubang tanam, melainkan juga tanaman di sekitarnya.

3. Cara tanam dan perawatan

Selain bibit dan pupuk, rehabilitasi juga membutuhkan cara tanam yang benar agar tanaman lebih tahan terhadap dinamika lingkungan maupun organisme pengganggu.

Namun, saya menemukan di beberapa tempat masih ada tanaman yang tidak ditanam dengan benar.

Contohnya lubang tanam (liang masuknya bibit) hanya sekadar ditutup, tidak dipadatkan maupun ditinggikan. Cara ini salah: lubang tanaman yang renggang dan rendah justru membuatnya menjadi ‘kolam’ sehingga berisiko tinggi membusukkan akar.

Ada juga lokasi penanaman yang justru berada di jalur air. Akhirnya tanaman tersebut justru mati dan satu bibit terbuang sia-sia.

Perawatan juga menjadi aspek vital. Saya melihat di area terbuka, banyak tanaman terlilit gulma–organisme yang seharusnya dibersihkan secara berkala–supaya pertumbuhannya tak terganggu.

Beberapa tanaman bekas hutan industri seperti eukaliptus ataupun akasia mangium juga masih saya dapati di area IKN. Penanggung jawab rehabilitasi harus mempertimbangkan karakter kedua spesies ini. Misalnya, cabang-cabang eukaliptus bisa mengganggu pertumbuhan tanaman. Sedangkan akasia mangium tergolong tanaman ‘penyendiri’ karena tidak bisa tumbuh berdampingan dengan tanaman berjenis lainnya.

Saya dan tim juga tak merekomendasikan kantong plastik (polybag) yang dibiarkan atau menjadi penanda tanaman. Jika dibiarkan, ratusan ribu bahkan jutaan kantong plastik justru mencemari kawasan hutan IKN.

Selain evaluasi dan saran praktis di atas, pemerintah juga perlu mempertimbangkan strategi lainnya seperti kolaborasi antarpihak, termasuk masyarakat sekitar untuk menanam tanaman asli Kalimantan yang diperkirakan mencapai 1.433 spesies.

Saya mengamati banyak masyarakat setempat yang juga membudidayakan tanaman asli dan dengan senang hati berbagi bibit untuk pemulihan hutan di IKN.

Pemberdayaan masyarakat bisa menumbuhkan banyak fasilitas perbenihan dan persemaian baru. Fasilitas ini yang sangat dibutuhkan untuk pemulihan hutan di daerah-daerah lainnya dengan jenis yang lebih beragam di seluruh Indonesia.

Pemerintah juga memerlukan penguatan kebijakan untuk mempercepat pemulihan hutan hujan tropis di IKN. Upaya mengembalikan kejayaan hutan hujan tropis sangat jarang dilakukan di dunia. Indonesia sudah merencanakannya sehingga proses dan pencapaiannya pasti menjadi contoh bagi praktik serupa di masa depan.

Konsep forest city di IKN merupakan ide cerdas sehingga kita tidak bisa menggunakan strategi yang biasa-biasa saja. Kita perlu lebih cerdas pula dalam merealisasikannya. (sumber: the conversation)

 

Kiswanto, Dosen Budi Daya Hutan, Universitas Mulawarman dan anggota tim penyusun rancangan teknis Rencana Rehabilitasi Hutan dan Lahan Nusantara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top