Catatan Akhir Tahun untuk Indonesia

Catatan Akhir Tahun untuk Indonesia

Oleh: Virtuous Setyaka*

Bagaimana merespon Perpu Omnibus Law UU Cipta Kerja dengan cara menilainya dalam analisis struktural, dan bahwa segala sesuatu terjadi secara sistemik?

Kalau mau menilai dengan pendekatan kritis, maka struktur dan sistem itu semuanya diciptakan manusia. Oleh sebab itu perubahan sosial yang diinginkan juga harus diciptakan oleh manusia juga. Manusia yang berpikir dan bekerja untuk kebaikan sesama manusia, memang sebaiknya saling bekerja sama dan memikirkan sesamanya, bukan hanya untuk dirinya sendiri dan para kroni.

Mungkin ada sistem dan pemikiran politik yang tidak berkembang dalam kehidupan keseharian kita. Sebuah sistem dan pemikiran politik kritis yang melawan sistem dan pemikiran politik yang ada, namun yang ada itu adalah jenis sistem dan pemikiran politik kapitalisme neoliberal.

Mengapa kekayaan Elon Musk bisa turun sebanyak itu yang mungkin menyilaukan kita semua saking banyaknya dalam hitungan menit? Di sisi lain, pernahkah kita bertanya bagaimana cara dia menumpuk kekayaan atau mengakumulasi kapital? Itulah yang disebut dengan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal dengan pasar terintegrasi secara global dan perdagangan bebas sangat kompetitif karena persaingan liar dan brutal di mana negara hanya berfungsi untuk menjamin itu terjadi melalui regulasi. Sedangkan organisasi internasional seperti IMF, WB, WTO, dan sebagainya menjadi tim pengelola global; dan ditopang dengan segala bentuk yang disebut sebagai kerja sama internasional antar negara di dalam satu atau lintas kawasan di dunia.

Apakah disrupsi atau tatanan dunia yang kacau balau itu alamiah? Sepertinya kelihatan begitu bagi semua pihak yang tidak memiliki kuasa untuk mengontrol, mengendalikan, dan mengatur dunia, terutama untuk mengamankan diri mereka sendiri dan tentu saja aset-aset mereka. Bisa jadi, disrupsi adalah situasi yang dikondisikan dan dinarasikan agar mereka yang tak berkuasa menjadi panik sehingga melepaskan semua kepemilikan atas apapun termasuk diri mereka sendiri.

Demokrasi yang selama ini dipuja dan diselenggarakan hanya dalam konteks politik adalah demokrasi semu yang disebut demokrasi liberal. Tidak ada demokrasi dalam konteks ekonomi, misalnya setiap orang, komunitas, dan bangsa yang ada di setiap negara berdaulat atas apapun yang mereka miliki dan kelola. Semuanya dilibas dengan apa yang disebut dengan program-program penyesuaian struktural, transfer kebijakan, atau apapun namanya, bukankah itu imperialisme baru untuk menumbuhsuburkan tatanan dunia yang akan mudah dikontrol dari wilayah pusat kekuasaan ke wilayah-wilayah pinggiran dalam sistem dunia?

Penguasa yang melangkahi hak rakyat dalam pembentukan perundang-undangan harus dilihat dalam konteks karena menjalankan amanat para penguasa kapital dan teritorial, maka undang-undang pun harus dilihat siapa yang membuatnya dan apa ideologinya. Sementara itu, rakyat yang tidak berkuasa diceraiberaikan kekuatan kolektif mereka dengan didorong menjadi individualis, tidak peduli sesama, dan hanya terus memikirkan kepentingan diri sendiri, paling jauh memikirkan kroni, itupun yang mendukung keamanan dan kenyamanan dirinya sendiri.

Memang, yang harus dikutuk adalah kita yang masih memiliki kesadaran kritis, namun tidak pernah mau dan mampu mengorganisir diri untuk menyadarkan rakyat dengan pergerakan dan mendidik penguasa dengan perlawanan. Bagaimana caranya? Berserikat dan berkoperasilah! Meskipun kehidupan berkoperasi di Indonesia masih terus bermasalah. Harus dikembalikan menjadi gerakan koperasi yang memberdayakan dan memperkuat secara ekonomi, ideologi, budaya, dan juga lingkungan yang berkelanjutan dalam kehidupan setiap orang sebagai anggota, bagian masyarakat umum, rakyat Indonesia, dan umat manusia di dunia.

Berserikat dan berkoperasi tidak hanya bergerak di tingkat lokal, namun juga nasional dan internasional sebagai gerakan koperasi global. Hambatan kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang berkeadilan dalam lingkungan hidup berkelanjutan selama ini terbukti tidak hanya berasal dari perilaku setiap orang dan kultur komunitas dalam masyarakat tertentu saja. Hambatan itu seringkali berasal dari struktur dalam relasi kuasa yang menciptakan sistem global hegemonik yang tidak demokratis dan tidak adil, bahkan ditopang dengan senjata.

Pasar global tunggal bebas adalah neraka bagi setiap pihak yang kalah dalam permainan ekonomi zero sum game atau bertarung sampai penghabisan. Permainan ini didukung dengan institusi dan regulasi oleh para penguasa kapital dan teritorial di dalam negara dan organisasi internasional yang tidak berpihak dan tidak membela kaum rentan yang terpinggirkan dalam struktur sosial global.

Serikat dan koperasi harus menjadi lembaga yang menginstitusionalisasikan kekuatan kaum pinggiran sebagai organisasi gerakan sosial untuk melawan eksploitasi manusia dan penghancuran lingkungan akibat keserakahan dan kemunafikan yang selama ini diselenggarakan secara sistemik dan struktural. Tidak ada perdamaian dunia tanpa keadilan sosial global, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan kelestarian lingkungan.

Selamat menyambut tahun baru tanpa kutukan pada diri sendiri. (*)

*(Dosen HI FISIP Unand & Ketua KMDM)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top