191 Tahun Padangpariaman, Bersatu untuk Berjaya

Oleh: Wiztian Yoetri

191 Tahun Padangpariaman, Bersatu untuk Berjaya

Tak terasa, hari ini, 11 Januari 2024, usia Kabupaten Padangpariaman sudah mencapai 191 tahun. Berdasarkan catatan sejarah, Kabupaten di pesisir Barat Sumatera Barat itu lahir, 11 Januari 1833.

Ketika meresmikan kegiatan Padang Pariaman Expo, beberapa hari lalu di halaman Kantor Bupati Padang Pariaman, Gubernur Sumbar Mahyeldi, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap pencapaian pertumbuhan ekonomi Padang Pariaman, melebihi provinsi dan nasional.

“Pertumbuhan ekonomi Padang Pariaman 6,87 persen, provinsi 4,38 persen dan nasional 5,31 persen, sebuah prestasi membanggakan,” ujar Gubernur.

Maka, orang nomor satu di Sumbar itu, menyebut ulang tahun ke 191, dijadikan sebagai momentum kebangkitan ekonomi Padang Pariaman.

Artinya, tidak sekedar menggelar kegiatan Padang Pariaman Expo, karena Padang Pariaman  memiliki potensi pariwisata  dan investasi yang sangat besar, dan ini perlu digerakkan secara lebih luas.

Kabupaten Padang Pariaman dibawah duet kepemimpinan Suhatri Bur-Rahmang, selain fokus pada pembangunan sarana-prasarana infrastruktur, juga mengkedepankan sektor pariwisata, UMKM dan Koperasi sebagai upaya membangun perekonomian kerakyatan.

“Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman memberi ruang besar untuk publik, bagi pelaku investasi, pariwisata, UMKM dan Koperasi. Ini merupakan, langkah untuk membangkitkan dan pemulihan perekonomian,” ujar Suhatri Bur saat pembukaan Padang Pariaman Expo.

Dengan tagline 191 Kabupaten Padang Pariaman “Maju Bersatu untuk Padang Pariaman Berjaya”, kabupaten berpenduduk 436, 129 jiwa ini, lebih memilih program kolaborasi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Seperti, program PERISAI; Perikanan, Pertanian dan Pariwisata Terintegrasi. Inovasi ini, telah dilaunching, di Kabupaten Padang Pariaman. Program ini, dengan sasaran meningkatkan pendapatan petani dan nelayan, selain membuka lapangan usaha.

Sebab, salah satu masalah utama di Padang Pariaman, adalah upaya penanggulangan kemiskinan dan pengangguran. Inilah solusi, dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.

Sebagai dampak dari pembukaan lapangan kerja, diberbagai sektor, tingkat kemiskinan dan pengangguran cenderung menurun sejak beberapa tahun terakhir di Padang Pariaman.

Perbandingan penurunan penduduk miskin di Padang Pariaman, tahun 2021 tercatat 34,41 ribu jiwa dengan tingkat kemiskinan 7,22 persen. Sementara tahun 2022, menurun jadi 6,25 persen dengan jumlah penduduk miskin 26,44 ribu jiwa, artinya terjadi  penurunan  7,47 persen.

Maka, kembali kepada harapan Gubernur Mahyeldi diatas, dan dikaitkan dengan komitmen Bupati Suhatri Bur disektor ekonomi,  maka sudah waktunya Padang Pariaman diusia 191 tahun ini, menjadikannya sebagai momentum untuk kebangkitan ekonomi,  ‘Maju Bersatu untuk Padang Pariaman Berjaya’ di segala bidang.

Membuat Momentum

Hendaknya, momentum kebangkitan ekonomi tidak hanya “tebu di bibir”, maklum budaya “cemeeh lapau” kita sangat hebat. Beberapa usulan penting di sini, perlu ditekankan agar Pemkab dan Pemprov saling mengisi agar Padangpariaman tidak tumbuh sendiri. Abad ini membutuhkan kolaborasi. Inilah kunci.

Bagi Padangpariaman, harus disadari, kehadiran transportasi udara Bandara International Minangkabau (BIM) dan jalur Kereta Api, mesti dioptimalkan dengan membuat kebijakan strategis. Sekadar contoh, kemudahan untuk membangun sarana produksi usaha di seputaran BIM. Sehingga produk yang dibuat bisa langsung dibawa terbang kemana-mana. Produk tersebut, tentunya spesifik dan laku. Kereta Api yang saban hari beroperasi semestinya menambah nilai lebih agar kedatangan ke destinasi wisata yang dimiliki, oleh karena itu mesti dibenahi.

Pertumbuhan ekonomi Padang Pariaman 6,87 persen memang kebanggaan, namun persoalan-persoalan di lapangan harus tetap dibaca sebagai kesempatan. Sebagai kabupaten perlintasan, Padangpariaman harus membuat para pengunjung ke Sumbar berhenti sejenak di Padangpariaman. Hal ini sudah terlihat dengan adanya beberapa gerai yang sangat representatif di sepanjang jalur lintas Padangpariaman. Namun kesemrawutan haruslah diselesaikan. Peningkatan kebersihan, keindahan dan kenyamanan, setiap jengkal kabupaten ini.

Ada kemacetan di titik perlintasan kereta api, sering mendapat imbas kemacetan dari Lembah Anai. Harusnya diselesaikan oleh Pemprov-Pemkab. Terakhir, Tol Padangpariaman-Pekanbaru, harus segera diantisipasi dengan hasil produksi, baik produk rumah tangga, tenaga kerja, juga hasil perkebunan dan kelautan. Nah, begitu banyak masukan untuk Pemkab, di hari jadi ini. Semua itu, patut dipertimbangkan sebagai bagian dari pembangunan di masa depan. Hal inilah, membuat slogan berjaya itu jadi kenyataan. Salam.**

Wiztian Yoetri, Wartawan Senior

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top