Perai

Perai

Oleh: Yusrizal KW

PeraiSuka yang perai dia kiranya!

Perai itu gratis, gratis itu perai. Maunya kita kebanyakan, terserah seperti apa, pokoknya dibolak balik kita tetap gak bayar. Karena itu, salah satu hal yang disadari atau tidak, mencari celah untuk tidak bayar dalam banyak hal. Semakin besar nilai perainya, semakin besar pula kepuasan orang dalam dirinya. Kadang sih begitu.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, ingin perai adalah manusiawi. Tetapi, ketika ada hal-hal yang harus bayar, ya bayar. Jangan tersinggung kalau selama ini teman menggratiskan kita, tahu-tahu untuk yang akan datang ia minta bayar. Bahkan, seorang teman pernah berkata kepada saya, kalau sahabat karibnya kini sudah renggang karena diminta membayar ikut acara seminar yang mengundang pembicara dari Jakarta di hotel berbintang. Ada juga seorang penulis, teman-temannya tak mau beli bukunya, karena tanda berteman yang gratis, dikasih Cuma-Cuma. Huf.  Padahal, teman tadi berpikir rasional, bahwa segala sesuatu yang berhubungan penerbitan, penyelenggaraan acara dia pun harus bayar, mengeluarkan dana, modal besar. Tetapi, adakah kita mau ikut serta patungan, jika teman itu mengalami kerugian?

Perai itu makin bermakna bagi kebanyakan orang ketika yang lain bayar. Maka tak jarang, ada yang sombong ketika di banyak hal ia sering perai. Bahkan menjadi suatu kehormatan. Kalau tidak boleh perai, orang tipe ini mati-matian mencari akal bagaimana supaya bisa perai. Bahkan pakai jual nama orang penting atau kekuasaan. Pokoknya bisa perai.

Sekadar memperlebar rasa yang kaya tersimpan dalam kata, perai itu bisa juga berupa ketika saya, atau anda, mempekerjakan orang. Mulanya disepakati jobnya admin medsos. Tetapi, ia dibebankan juga untuk dua sampai tiga job lain di luar jobnya, yang sesungguhnya dihitung dengan kapasitas dirinya, harus ditambah tunjangan.

Kadang, kita terjebak cara berpikir mengapitalisir diri pekerja tanpa sadar bahwa kita telah beli satu perai tiga. Tetapi begitulah sisi buruk hidup, yang kadang mengalami pembiasan makna yang manusiawi, yang sisi lain kemaklumannya semoga yang iklas dengan keperaian yang diberikannya mendapat ganjaran pahala dari Tuhan. Yang menikmati fasilitas perai semoga pula berpahala karena menyebabkan orang lain berpahala, hoho….

Tetapi, hal penting barangkali, pahamilah perai pada tempatnya. Ada saat menggratiskan, ada pula saat menerima fasilitas perai. Sesekali perai, seringkali bayar, itu mestinya. Bukan sebaliknya. (*)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top