TTS (Teka-teki Silang)

TTS (Teka-teki Silang)

Oleh: Ria Febrina

 

TTS (Teka-teki Silang)Seorang teman menceritakan kepada saya kalau masa kecilnya diisi dengan kegiatan mengisi TTS atau teka-teki silang. Dia duduk di kios neneknya dan menemani saudara laki-laki ibunya berjualan sambil mengisi TTS. Karena sangat suka, berkardus-kardus TTS ada di rumah mereka. Permainan kata dengan mengisi kotak-kotak kosong ini memang sangat populer pada tahun 1990-an hingga 2000-an awal.

TTS atau teka-teki silang hadir di Indonesia pada tahun 1970-an di sebuah majalah TTS dengan nama “Asah Otak”. Permainan ini dipelopori oleh seorang jurnalis yang bernama Arthur Wyne pada 21 Desember 1913 dalam majalah New York World dengan nama “Word-Cross”. Permainan kata berbentuk bujur sangkar dan tanpa kotak berwarna hitam ini disebut sebagai teka-teki silang pertama di dunia. Hingga suatu hari seorang ilustrator mengubah namanya menjadi “Cross-Word”.

Ketika permainan ini populer, sejumlah media massa di Indonesia pun menghadirkan rubrik teka-teki silang yang diikuti dengan memberikan sejumlah hadiah. Pada saat itulah, penyuka teka-teki silang menjadikan permainan ini sebagai rutinitas, mengasah otak sambil berlomba mengirimkan jawaban ke media tersebut. Berharap, syukur-syukur mendapatkan hadiah.

Dalam kenangan saya, teka-teki silang menjadi catatan awal dalam mengenal kosakata. Orang tua saya tidak pernah membelikan saya buku bacaan, apalagi kamus bahasa Indonesia. Namun, karena hidup di pusat ibu kota Provinsi Sumatera Barat dan tinggal di belakang Terminal Lintas Andalas, saya sangat mudah mendapatkan koran cetak. Di kiri dan di kanan rumah saya, banyak toko-toko yang suka berlangganan koran. Saya suka meminjam, membaca, dan menjawab sendiri teka-teki silang di koran tersebut. Jika saya tidak tahu jawabannya, saya menunggu koran edisi berikutnya yang memaparkan jawaban dari teka-teki silang sebelumnya. Bagi saya saat itu, teka-teki silang menjadi kamus pertama dalam mengenal kosakata.

Jika dulu kita banyak mengenal kosakata dari teka-teki silang, barangkali sangat tepat jika sekarang kita kembali mengenal bentuk teka-teki silang dari kamus-kamus bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI daring), teka-teki silang didefinisikan sebagai ‘teka-teki dengan mengisi huruf dan sebagainya dalam petak-petak dan sebagainya’. Kita bisa melihat konteksnya dalam kalimat, “Teka-teki silang dengan hadiah menarik banyak termuat pada surat kabar”.

Dalam perkembangan KBBI, ada dua penulisan untuk teka-teki silang. Dalam KBBI Edisi I (1988), kata teka-teki ditulis tanpa tanda hubung (-) sehingga menjadi teka teki. Dalam tata bahasa Indonesia, kata yang ditulis dengan tanda hubung merupakan kata ulang, sedangkan kata yang tidak mendapatkan tanda hubung merupakan gabungan kata. Barangkali berkenaan dengan kata dasarnya dari teka yang bermakna ‘menebak; menduga; terka’, kata teka teki pada KBBI Edisi I ditulis tanpa menggunakan tanda hubung. Sementara untuk kata ulang berubah bunyi lainnya, seperti corat-coret, kocar-kacir, dan sayur-mayur, sudah ditulis menggunakan tanda hubung dalam KBBI tersebut.

Dalam kaidah bahasa Indonesia, kata teka-teki merupakan kata ulang berubah bunyi sehingga mulai pada KBBI Edisi II (1991), tanda hubung ditambahkan dan ditulis menjadi teka-teki. Sementara itu, dalam perkembangan makna, pada KBBI Edisi I, KBBI Edisi II, dan KBBI Edisi III, teka-teki silang disebut sebagai ‘teka-teki gambar’. Mulai pada KBBI Edisi IV, kata gambar dihilangkan. Barangkali makna kata difokuskan pada permainan kata, bukan pada gambar.

Karena permainan kata sudah menarik hati banyak orang—tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia—sangat tepat jika ditelusuri kembali makna kata teka-teki silang dalam kamus-kamus bahasa Indonesia. Dalam Kamoes Indonesia (E. Soetan Harahap, 1942), kata teka-teki silang dan juga kata teka-teki tidak ada. Kita akan diarahkan untuk mengecek kata teka.

Teka adalah ‘ia menerka, siapa jang dapat oentoeng kelak, ia menerka (menjeboet menoeroet sangkanja), siapa jang dapat oentoeng kelak; teka teki, tanjaan  jang akan didjawab, ditjari mana sahoetannja’. Artinya, kata teka-teki sudah mengalami perkembangan makna pada masa tersebut dengan kata yang berasal dari makna menerka. Bermain teka-teki berarti mencari atau menerka jawaban. Dalam Kamus Indonesia Ketjik, E. St. Harahap (1954) menambahkan bahwa kata teka-teki yang merujuk teka itu mengarah pada kosakata bahasa Djawa yang bermakna ‘tebakan’. Makna kata teka atau teka-teki ini disebut ‘semacam kata-kata, soal  atau tanja’.

Dalam Logat Ketjil Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1951), kata teka-teki silang juga tidak ada. Yang ada hanya teka-teki yang bermakna ‘soal jang harus diterka; tebakan’. Meskipun dipublikasikan pada tahun yang sama, dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia (Sutan Mohammad Zain, 1951), kata teka-teki justru tidak ada. Kita akan diarahkan pada kata teka yang pertama bermakna ‘teka-teki (dari terka), apa-apa jang harus diterka, misalnja: berpajung bukannja radja, bersisik bukannja ikan, apakah itu? Jang digantung diatas, jang menggantung dibawah, apakah itu?’.

Teka-teki pada masa ini memang berkaitan dengan tebak-tebakan menggunakan pertanyaan yang bersifat narasi atau berupa kalimat yang mengandung cerita. Jawaban dari berpajung bukannja radja, bersisik bukannja ikan adalah nenas, sedangkan jawaban dari jang digantung diatas, jang menggantung dibawah adalah layang-layang. Oleh karena itu, dalam kamus ini, terdapat kata berteka-teki yang bermakna ‘saling memberi teka-teki jang akan diterka; hitungan udjian itu suatu teka-teki, bukan hitungan jang baik’. Selain itu, juga ada kalimat berupa teka2an sadja dari padanya, yang bermakna ‘bukan dengan perhitungan jang tentu’.

Selain itu, kata teka dalam kamus ini juga punya makna kedua, yakni ‘datang, dari, sampai’. Makna ini dicatat berasal dari bahasa Djawa. Namun, makna kedua ini hanya ada dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia. Dalam kamus-kamus lain, kata teka yang bermakna ‘datang, dari, dan sampai’ tidak ada sehingga juga tidak ada dalam KBBI.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1954), kata teka-teki silang sudah ada ketika kita mencari kata teka-teki. Namun, untuk mendapatkan maknanya, kita akan diminta membuka halaman yang memuat kata silang. Pada halaman yang memuat kata teka-teki, teka-teki didefinisikan pertama sebagai ‘soal jang berupa kalimat (tjerita, gambar dsb) jang djawabnya tersembunji dalam soal itu; tebakan (seperti jang digantung diatas, jang menggantung dibawah = orang menaikkan lajang-lajang’.

Makna kedua dari teka-teki dalam kamus ini adalah kiasan, yaitu ‘sesuatu hal jang gelap (rahasia)’, serta teka-teki silang yang diarahkan dengan tanda panah untuk membuka kata silang. Karena merujuk pada kata silang, ketika membuka halaman tersebut, akan tampak bahwa teka-teki silang didefinisikan sebagai ‘teka-teki gambar (dengan mengisi huruf dsb dalam petak-petak dsb’. Dengan demikian, tampak jelas bahwa makna kata teka-teki silang yang tercantum dalam KBBI merupakan makna kata yang diambil dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) susunan Poerwadarminta.

Berkenaan dengan makna pada teka-teki dalam KUBI, juga ada makna lain yang patut dicermati, yakni makna pada kata teka-teki terbang. Kata teka-teki terbang didefinisikan ‘sebangsa (sematjam, sedjenis) tebakan dengan menjebutkan nama huruf (Arab) berturut-turut, jang harus didjawab segera dengan menjebutkan kata jang dituliskan dengan huruf-huruf tadi (seperti dal alif dal wau = dadu)’. Teka-teki ini sepertinya sangat populer pada masa itu. Karena kata teka-teki menjadi sebuah permainan, dalam kamus ini terdapat kata turunan berupa berteka-teki yang bermakna ‘menjuruh tebak teka-teki’.

Setelah menelusuri kamus-kamus bahasa Indonesia, tampak bahwa permainan kata-kata dengan mengisi kotak-kotak berwarna hitam putih merupakan permainan baru yang diserap dari bangsa asing. Meskipun demikian, permainan kata sudah tumbuh sejak awal di kalangan masyarakat Indonesia. Meskipun TTS (teka-teki silang) tidak populer lagi hari ini, permainan kata tetap ada dan bahkan menjadi materi paling asyik bagi komedian dalam menciptakan puncline atau bagian terlucu. Apakah ke depan akan ada permainan kata yang baru? Tentu akan ada. Kreativitas seseorang akan terus berkembang sehingga bisa memanfaatkan kosakata sebagai objek permainan. (*)

Ria Febrina, Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top