Paman

Paman

 Oleh: Ria Febrina

PamanDongeng sebagai media untuk menumbuhkan imajinasi anak-anak kini menjadi salah satu ruang bertahannya kosakata bahasa Indonesia.

Di Yogyakarta, pada 25—26 Februari 2023 kemarin, telah dideklarasikan Sarasehan Pendongeng Indonesia I. Para pendongeng se-Indonesia ini berikrar untuk menjaga imajinasi anak-anak Indonesia melalui dongeng atau cerita imajinasi.

Dari sarasehan ini, anak-anak kembali mendengar kosakata bahasa Indonesia yang mulai sulit ditemukan dalam komunikasi sehari-hari karena lebih banyak yang memilih menggunakan bahasa gaul. Dari sekian kosakata yang dipakai para pendongeng dalam sarasehan ini, ada kosakata yang menarik untuk dikaji, yaitu kata paman. Jika kebanyakan pendongeng dipanggil kakak, ada satu pendongeng di sarasehan ini yang kemudian mempopulerkan diri dengan panggilan paman. Namanya Paman Gery. Dulu sekali, saat saya masih kecil, sekitar tahun 1990-an, kata paman ini masih populer melalui lagu anak Indonesia. Berikut liriknya.

Kemarin paman datang

Pamanku dari desa

Dibawakannya rambutan, pisang

dan sayur-mayur segala rupa

Bercrita paman tentang ternaknya

Berkembang biak semua

Lagu yang dipopulerkan oleh Tasya Kamila ini menjadi salah satu media yang merekam kata paman. Di samping lagu ini, kata sapaan paman juga terekam dalam dongeng dan cerita anak Indonesia. Di www.pendongeng.com, terdapat sebuah cerita dengan judul “Paman Alfred dan 3 Ekor Rakun”. Kita bisa membaca kisahnya dalam satu paragraf berikut.

Paman Alfred berjalan menaiki tangga menuju atap lotengnya. Setelah membuka pintu lotengnya, paman Alfred sangat terkejut sampai hampir terjatuh ke belakang. Ia melihat 3 ekor rakun yang sedang bernyanyi. Karena kesalnya, ia berteriak, “Diam..!”, 3 rakun tersebut tetap bernyanyi, walaupun sudah diusir. Akhirnya, paman Alfred kembali ke kamarnya. Ia mencoba untuk melanjutkan tidurnya.

Dalam cerita dongeng Indonesia, kata paman menjadi kata yang dipakai oleh penulis Indonesia untuk melukiskan hubungan anak-anak dengan saudara laki-laki ayah atau saudara laki-laki ibunya. Kata tersebut sudah tercatat dalam kamus-kamus bahasa Indonesia, seperti Kamoes Indonesia (E. Soetan Harahap, 1942), Kamus Moderen Bahasa Indonesia (Sutan Mohammad Zain, 1951), Logat Ketjil Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1951), Kamus Indonesia Ketjik (E. St. Harahap, 1954), dan Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1954). Dalam Logat Ketjil Bahasa Indonesia misalnya, kata paman bermakna saudara laki-laki ibu (bapa).

Kalau kita cermati kata sapaan hari ini, sangat sedikit atau mulai tidak ada anak-anak menggunakan kata sapaan paman kepada saudara ayah dan ibunya. Padahal, Sutan Mohammad Zain dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1951) mencatat kata paman sebagai kata yang berasal dari bahasa Jawa yang bermakna ‘adik ajah atau ibu’. Dalam Kamoes Indonesia (1942), E. St. Harahap menunjukkan dalam kalimat, pamankoe baroe kawin, saudara iboekoe (bapakoe baroe nikah).

Kata paman ini secara perlahan memang mulai digantikan dengan kata om sejak zaman Belanda. Namun, kata ini awalnya terbatas dipakai dalam keluarga Jawa, khususnya bagi paman yang berpendidikan bahasa Belanda (Hendri F. Isnaeni dalam artikel yang berjudul “Oom, Om, dan om-om”). Dalam kamus bahasa Indonesia, kata sapaan om baru hadir dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi II yang diterbitkan tahun 1991. Dalam kamus ini, om merupakan ragam percakapan yang bermakna ‘(1) adik laki-laki ayah dan (2) panggilan kepada orang laki-laki dewasa, biasanya agak tua’. Artinya, cukup panjang waktu yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia menerima kata om karena mereka lebih arab dengan kata paman.

Daripada kata om, masyarakat lebih memilih menggunakan kata sapaan lainnya yang bersifat lokal atau mencerminkan khazanah budaya yang dimiliki. Di Minangkabau misalnya, ada kata mamak untuk mencerminkan saudara laki-laki ibu dan ada bapak untuk mencerminkan saudara laki-laki ayah. Dari kata mamak dan bapak ini, hadir bentuk yang lebih spesifik untuk membedakan antara saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki  ibu yang satu dengan yang lainnya.

Ada Mak Dang ‘yang paling tua’, Mak Cik ‘yang paling kecil atau yang paling muda’, atau Mak Uncu ‘yang paling bungsu’ untuk membedakan saudara laki-laki ibu berdasarkan usia. Ada juga Mak Itam ‘yang berkulit gelap’, Mak Uniang ‘yang berwarna kuning cerah’, dan Mak Utiah ‘yang berkulit putih’ untuk membedakan saudara laki-laki ibu berdasarkan warna kulit. Begitu juga dengan saudara laki-laki ayah, ada Pak Dang ‘yang paling tua’, Pak Cik ‘yang paling kecil’, atau Pak Itam ‘yang berkulit gelap’. Ini hanya sebagian pembeda karena juga ada yang membedakan saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki ibu berdasarkan pembeda lainnya.

Bagi masyarakat Jawa, kata sapaan yang digunakan untuk saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki ibu adalah pakde dan paklek. Pakde bermakna ‘yang paling gede atau yang paling tua’ dan paklek ‘yang paling kecik atau paling cilik’. Kata sapaan ini bertahan dengan baik hari ini jika dibandingkan dengan kata paman.

Dalam kosakata bahasa Indonesia, kata paman memiliki perkembangan tersendiri. Pada awalnya, kata paman bermakna saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki ibu. Lalu, dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1951), kata paman dipakai djuga kepada orang lain jang umurnja kira-kira sama dengan paman kita. Dari kata dan makna tersebut, hadir kata berpaman kepada seseorang yang bermakna ‘memanggil paman kepada seseorang’.

Begitu juga dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952), kata paman dipakai sebagai ‘panggilan kepada orang laki-laki jang belum dikenal atau patut dihormati’. Bahkan, dalam Kamoes Indonesia (1942) dan Kamus Indonesia Ketjik (1954), kata paman tercatat pernah disingkat atau dipendekkan oleh masyarakat pada masa lampau menjadi man. Pemendekan ini dapat dilihat dalam kalimat, “Man! Kemana engkau kini?”.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dalam KBBI Edisi I (1988), kata paman dimuat sebagai ‘1 adik laki-laki ayah atau adik laki-laki ibu ; pakcik; mamak; 2 panggilan kepada orang laki-laki yang belum dikenal atau yang patut dihormati’. Namun, mulai KBBI Edisi III, kata paman yang bermakna mamak menghilang dari definisi, lalu bentuk berpaman yang dipakai untuk ‘menganggap atau menyebut paman’ kepada seseorang ditambahkan dalam kamus tersebut.

Kata yang dipakai Paman Gery ketika anak-anak memanggil dirinya ini merupakan cara yang tepat agar anak-anak masa sekarang tahu bahwa kita memiliki kata paman dalam kosakata bahasa Indonesia. Meskipun kata paman yang dipakai kepada Paman Gery merupakan makna yang menyempit karena secara khusus dipakai untuk penghormatan kepada beliau sebagai pendongeng atau dipakai kepada beliau yang memiliki usia seumuran dengan saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki ibu anak-anak masa kini, kata paman masih terus hidup sebagai kosakata bahasa Indonesia.

Kisah-kisah yang dibawakan Paman Gery ini bisa dinikmati di berbagai platform online. Ada di Youtube dan juga Spotify. Sebagai narator, kata paman dipakai berulang-ulang untuk memberi kesan mendalam kepada anak-anak yang menonton dan mendengar kisah dongeng yang dibawakannya. Ketika anak-anak Indonesia berhadapan langsung dengan Paman Gery, seperti sarasehan ini, mereka menggunakan kata paman untuk menyapa Paman Gery yang sekaligus menunjukkan bahwa kata paman masih terus dipakai dalam komunikasi bahasa Indonesia. Terima kasih, Paman Gery dan juga pendongeng Indonesia yang terus berjuang menggunakan kosakata bahasa Indonesia.

Ria Febrina, Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top