Oto

Oto

Oleh: Ria Febrina

Oto

Kemajuan teknologi berkendara di Indonesia salah satunya ditandai dengan adanya mobil. Namun, sudah tahukah kita bahwa ada kata lain yang bersinonim dengan kata mobil dalam bahasa Indonesia, yaitu oto. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata mobil bermakna ‘kendaraan darat yang digerakkan oleh tenaga mesin, beroda empat atau lebih (selalu genap), biasanya menggunakan bahan bakar minyak untuk menghidupkan mesinnya; oto; otomobil’. Sementara itu, oto bermakna ‘kendaraan (kereta) yang dijalankan dengan motor; mobil; otomobil’. Dengan demikian, mobil dan oto merupakan dua kata yang bersinonim.

Sayangnya, dalam perkembangan bahasa Indonesia, kata oto tidak sepopuler kata mobil. Padahal, kata oto dan mobil sama-sama sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia sejak KBBI Edisi I (1988) dan juga sudah masuk dalam kamus-kamus sebelum KBBI. Dalam kamus-kamus tersebut, kata oto memiliki banyak variasi. Ada oto gerobak ‘truk (oto pengangkut barang)’, oto sewaan ‘taksi’, dan otobis ‘oto pembawa orang banyak’. Jenis-jenis oto ini pun tidak populer dan kini digantikan dengan nama-nama lain, seperti taksi, minibus, bus, truk, prahoto, kereta api, dan pesawat.

Satu hal yang perlu kita catat dalam sejarah otomotif Indonesia, mobil atau oto merupakan teknologi yang dibawa oleh bangsa Belanda. Dalam KBBI, kita memang tidak dapat melacak asal-usul kata ini berasal dari bahasa apa. Namun, dalam kamus-kamus sebelum KBBI, kita dapat melacak bahwa kata mobil dan oto berasal dari bahasa Belanda.

Dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia yang disusun oleh Sutan Mohammad Zain (1951), kata oto dan mobil dilabeli dengan Bld yang bermakna bahwa kedua kata ini berasal dari bahasa Belanda. Kata oto berasal dari auto ‘sendiri’. Dari kata ini, muncul otomobil atau otosadja yang berarti ‘jang bergerak sendiri, motorkar, jang didjalankan oleh mesin memakai minjak bensin’. Begitu juga dengan mobil, yangbermakna ‘otomobil, motorkar’. Dari kedua kata ini, sangat menarik jika kita mengulas lebih lanjut tentang kata oto.

Dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia, oto memiliki beberapa jenis, yaitu (1) oto sewaan ‘taksi’, (2) oto gerobak ‘oto pengangkut barang’, dan (3) otobis ‘oto pembawa orang banjak’. Kata oto juga memiliki turunan kata, yaitu beroto yang bermakna ‘bepergian memakai oto’. Sebuah kata yang semakna dengan bermobil, bermotor, bersepeda, dan berpesawat.  Imbuhan ber- pada tiap-tiap kata dasar tersebut bermakna ‘mempunyai atau memakai’.

Dalam kamus-kamus lain sebelum KBBI, kata oto tidak dijelaskan secara rinci. Kata oto hanya didefinisikan sebagai mobil, kereta bermotor, atau kendaraan yang bisa berjalan sendiri. Kita bisa melihatnya pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (W.J.S. Poerwadarminta, 1952) yang mendefinisikan oto sebagai ‘mobil, kereta bermotor’. Namun, kata oto dijelaskan memiliki turunan dengan oto gerobak yang bermakna ‘prahoto’. Prahoto merupakan ‘mobil gerobak (untuk mengangkut barang-barang)’. Dalam KBBI daring (2023), kata prahoto merupakan bentuk baku dari vrah yang bermakna ‘mobil besar yang memakai bak untuk mengangkut barang; truk’.

Di kamus lain, seperti Kamus Indonesia Ketjik susunan E. St. Harahap (1954), kata oto merupakan nama lain dari auto yang bermakna ‘kendaraan berdjalan sendiri’. Selain oto, juga ditemukan otobis yang bermakna ‘oto jang besar pembawa orang tumpangan’. Dalam Logat Ketjil Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta (1951), kata oto hanya bermakna ‘mobil’. Sementara itu, dalam Kamoes Indonesia susunan E. Soetan Harahap (1954), kata oto yang bermakna ‘mobil’ belum diserap sama sekali. 

Karena oto merupakan salah satu produk yang dibawa oleh bangsa Belanda ke Indonesia, bahasa-bahasa daerah di Indonesia juga menyerap kata ini. Orang-orang Minangkabau misalnya, menyebut mobil dengan oto sebagaimana tercantum dalam Kamus Ungkapan Bahasa Minangkabau yang disusun oleh Diana, Fitria Dewi, dan Arriyanti (2015). Dalam kamus ini, oto adalah ‘mobil’. Dalam bahasa Minangkabau, kata oto dipakai dalam konteks berikut.

(1) Bermakna ‘memiliki; mempunyai mobil’

      Inyo lah baoto kini.

     ‘Dia sudah mempunyai mobil.’

(2) Bermakna ‘menaiki; mengendarai mobil’

     Urang babendi, awak baoto.

     ‘Orang naik bendi, kita naik mobil.’

Dalam Kamus Bahasa Manado yang dipakai oleh masyarakat di Sulawesi Utara, kata oto juga bermakna ‘mobil’. Kita dapat melihatnya dalam kalimat berikut.

(3) Om Utu da bli oto baru.

     ‘Om Utu membeli mobil baru’.

Dalam kamus bahasa daerah yang diakses secara digital, seperti Kamus Bahasa Abui, Kamus Bahasa Ambon, Kamus Bahasa Minahasa, Kamus Bahasa Poso, dan Kamus Bahasa Bima, kata oto juga bermakna ‘mobil’. Oto merupakan teknologi baru yang dimiliki oleh masyarakat tersebut sehingga mereka menyerap produk dan kosakata tersebut.

Selain dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia, dalam bahasa asing, seperti dalam Kamus Dewan Edisi Keempat, kata oto juga diserap sebagai kosakata yang bermakna ‘motokar’. Dalam kamus ini, kata oto dipakai dalam kalimat berikut.

(4) Oto dinas itu rosak kerana tabrakan seminggu yang lalu.

      Mobil dinas rusak karena kecelakaan seminggu yang lalu.

Dalam bahasa Indonesia, tidak hanya oto dan mobil yang diserap sebagai wujud perkembangan otomotif di Indonesia. Ada juga kosakata lain yang diserap, seperti koppeling ‘kopling’, bougie ‘busi’, versnelling ‘presneling’, klep ‘klep’, olie ‘oli’, rem ‘rem’, trommelrem ‘teromol rem’, accu ‘aki’, zekering ‘sekring’, velgen ‘velgkh’, helm ‘helm’, monteur ‘montir’, dan benzinetank ‘bensin tang’. Meskipun kosakata ini dipakai oleh pengguna bahasa Indonesia, tidak semua kosakata tersebut masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kopling, busi, persneling, klep, oli, rem, aki, sekring, helm, dan montir merupakan kosakata yang sudah masuk ke dalam kamus. Namun, tidak satu pun kosakata tersebut dilabeli sebagai kata yang berasal dari bahasa Belanda. Bahkan, tidak ada label bahasa untuk kosakata tersebut. Padahal, informasi asal-usul kata menjadi penting bagi kita untuk mengenal asal-usul kata dalam bahasa Indonesia. Meskipun demikian, dari kosakata tersebut, kita bisa belajar satu hal. Kita memiliki pengalaman dan kemajuan dalam berkendara karena adanya pengaruh dari bangsa Belanda.

Ria Febrina, Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top