Gemuk (Bagian 2)

Gemuk (Bagian 2)

Oleh Ria Febrina

Ada Apa Dibalik Kata Gemuk?

Gemuk (Bagian 2)Akhir-akhir ini, khususnya sejak media sosial populer, perempuan di mata laki-laki dan juga di mata para perempuan dicitrakan putih, tinggi, dan langsing. Tiga indikator dalam standar kecantikan ini menyebabkan banyak laki-laki mencari perempuan yang putih, tinggi, dan langsing sebagai pasangan. Para perempuan pun berusaha memenuhi indikator tersebut sehingga berlomba-lomba menjadi putih, tinggi, dan langsing.

Dari tiga kriteria tersebut, salah satu yang ingin dicapai perempuan Indonesia adalah langsing atau tidak gemuk. Hal ini kemudian menyebabkan perempuan Indonesia tidak suka menjadi gemuk dan juga tidak ingin orang lain menyebut mereka dengan gemuk. Mereka juga tidak suka melihat foto dirinya dalam keadaan gemuk karena gemuk membuat mereka tidak cantik.

Ideologi ini sebenarnya tumbuh dari dunia kapitalisme yang ingin memproduksi produk untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan perempuan memahami bahwa cantik segalanya, mereka pun menciptakan produknya. Mereka menciptakan sebuah dunia yang bersifat semu bahwa setiap perempuan dapat menjadi putih, tinggi, dan langsing dengan segala produk yang diciptakan. Inilah salah satu corak kapitalis yang dilahirkan Adam Smith. Produksi komoditas semata-mata untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan ideologi ini, produk mereka akan laris manis di pasar.

Dampak dari situasi ini, para perempuan yang merasa gemuk telanjur tidak percaya diri dengan diri sendiri dan sering membandingkan diri dengan perempuan lain yang berbadan langsing. Sejak itulah kata gemuk menjadi kata sifat yang paling dibenci oleh banyak perempuan.

Rasa benci yang dimiliki perempuan terhadap kata gemuk ini lama-kelamaan menyebabkan depresi. Mereka dihantui perasaan takut bahwa mereka tidak akan pernah merasa langsing lagi sehingga beberapa orang kemudian melakukan diet ketat. Sebagian dari mereka ada yang mengalami gagal diet dan kemudian meninggal dunia.

Konteks lainnya juga ada sebagian orang yang menggunakan kata gemuk untuk melecehkan orang lain. “Kamu tidak bisa bekerja karena gemuk”; “Kamu lelet karena gemuk”; dan “Kamu tidak berguna karena gemuk” adalah tuturan yang disampaikan untuk membuat orang tersebut semakin tidak percaya diri. Padahal, perempuan yang termasuk ke dalam kategori gemuk ini sudah berperang melawan diri sendiri.

Tidak semua pekerjaan terasa nyaman dikerjakan oleh seseorang yang memiliki tubuh lebih gemuk daripada orang lain. Bertubuh gemuk menyebabkan mereka kesulitan bergerak. Namun, citra bahwa menjadi gemuk merupakan sebuah masalah sudah telanjur berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Meskipun sejumlah film, novel, buku, dan artis berupaya menciptakan pemikiran bahwa gemuk itu juga cantik, pandangan tersebut hingga saat ini belum bisa diterima dengan baik oleh semua orang.

Meskipun demikian, kreativitas dalam berbahasa tidak akan pernah ada habisnya. Membalikkan kutipan tadi, akhirnya muncul sebuah parodi yang bersifat paradoks, yang seolah-olah bertentangan (berlawanan), tetapi mengandung kebenaran lain. Di media sosial, perempuan-perempuan yang disindir tadi tampil dengan percaya diri sambil berkata, “Kalau ada yang bertanya kenapa sekarang kamu gemuk? Jawab saja karena mulut saya dipakai untuk makan, bukan untuk membicarakan orang lain”.(*)

Ria Febrina, Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top