Dulur

Dulur

Oleh: Ria Febrina

 

DulurBerkunjung ke suatu kota pasti akan membuat kita menemukan kata-kata baru yang khas berasal dari kota tersebut. Begitu pun saya.

Saat tiba di Yogyakarta, saya menemukan banyak tulisan di dinding-dinding bangunan Yogyakarta. Tidak hanya bangunan gedung, tetapi dinding rumah penduduk juga banyak dihiasi tulisan. Hampir tiap sudut Kota Yogyakarta mudah ditemukan grafiti atau ‘coretan dalam berbagai bentuk (kata, simbol, dan sebagainya) dan warna yang terdapat pada tembok atau dinding properti umum’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Salah satu kata khas yang ada di grafiti Yogyakarta adalah kata dulur. Kata ini kemudian semakin sering saya temukan di media sosial yang dibuat oleh orang-orang Yogyakarta. Di akun Instagram dan Tiktok, mereka menggunakan lur, dulur, dan sedulur.

Saking seringnya mendengar kata tersebut, akhirnya saya bertanya apakah kata ini sudah masuk ke dalam bahasa Indonesia atau belum karena Yogyakarta hari ini tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang dari Pulau Jawa saja. Di Yogyakarta kita akan mudah menemukan hampir seluruh penduduk dari Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Bali, dan Pulau Papua. Bahkan, kalau sudah akhir pekan, mobil dengan plat nomor dari berbagai huruf yang menunjukkan asal dari berbagai kota dan provinsi tersebut, sangat mudah ditemukan di jalanan. Jika dulu saya hanya membaca daftar plat nomor tersebut di RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap Indonesia dan Dunia), kini motor dan mobil dengan beragam huruf tersebut berseliweran di hadapan saya, di jalan-jalan Yogyakarta.

Setelah ditelusuri, benar adanya bahwa sejak dahulu, kondisi sosial yang ada di Yogyakarta membuat kata dulur ini kemudian cepat diserap menjadi salah satu kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Meskipun kata ini cenderung digunakan di Pulau Jawa, khususnya di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, kata ini sudah menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa Jawa merupakan bahasa yang paling banyak menyumbang kosakata ke dalam bahasa Indonesia. Lestari Ningsih (2018) dalam skripsinya yang berjudul “Bahasa Daerah sebagai Sumber Pengayaan Kosakata Bahasa Indonesia dalam KBBI V” menunjukkan bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI V, ada sebanyak 1247 lema bahasa Jawa yang masuk, lalu diikuti dengan bahasa Minangkabau (985 lema), bahasa Melayu Jakarta (483 lema), bahasa Sunda (291 lema), bahasa Madura (225 lema), dan 79 bahasa daerah lainnya.

Keberadaan bahasa Jawa dalam kamus-kamus bahasa Indonesia memang sejak awal sudah banyak. Pada Kongres Bahasa Indonesia I dulu, ketika memilih salah satu bahasa menjadi sumber bahasa Indonesia, yakni antara bahasa Melayu dan bahasa Jawa, memang menjadi keputusan yang sulit saat itu. Karena bahasa Jawa memiliki tingkatan atau undha usuk yang ditentukan oleh perbedaan sikap santun yang ada pada diri pembicara terhadap lawan bicara dan yang dibicarakan, bahasa Jawa kemudian tidak dipilih sebagai bahasa Indonesia. Oleh karena itulah, bahasa Melayu dipilih sebagai sumber bahasa Indonesia karena tidak adanya tingkatan tersebut.

Meskipun demikian, dalam perkembangan kosakata bahasa Indonesia, bahasa Jawa terus diserap ke dalam bahasa Indonesia karena penutur bahasa Jawa memang paling banyak di Indonesia. Kata dulur ini menjadi salah satu buktinya. Dalam kamus-kamus bahasa Indonesia, khususnya dalam Kamoes Indonesia (E. Soetan Harahap, 1942), Kamus Moderen Bahasa Indonesia (Sutan Mohammad Zain, 1951), Logat Ketjil Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1951), Kamus Indonesia Ketjik (E. St. Harahap, 1954), dan Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1954), kata dulur tidak ada sama sekali. Bahkan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi I (1988), kata dulur juga belum menjadi kosataka bahasa Indonesia.

Kata dulur yang bermakna ‘saudara’ ini baru ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi II (1991). Artinya, orang-orang Indonesia baru semakin akrab dengan kata ini menjelang tahun 1990-an. Hingga Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (2003), tidak ada perubahan makna untuk kata dulur ini. Bahkan, hingga KBBI V, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia tidak memberikan contoh penggunaan kata dulur ini dalam bahasa Indonesia.

Jika dicermati penggunaan bahasa di tengah-tengah masyaratat, kata dulur ini berperan sebagai kata sapaan sebagaimana ibu, ayah, nenek, atau kakek. Kita bisa lihat pada kalimat “Apa kabar, Dulur?” yang fungsinya sama dengan kalimat “Apa kabar, Nenek?” Selain itu, kata dulur bisa juga digunakan sebagai sebutan dalam percakapan, seperti “Coba hubungi dulur kita yang berada di Malaysia.” yang fungsinya sama dengan kalimat “Coba hubungi nenek kita yang berada di Malaysia.”

Di Jawa, kata dulur atau dikenal dengan sedulur merupakan sebutan untuk saudara kandung atau sedarah. Misalnya, seorang kakak dan seorang adik dari orang tua yang sama disebut dengan sedulur. Kata ini yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan mengalami perkembangan makna. Kata dulur tidak hanya terbatas pada hubungan persaudaran saja, tetapi berkembang ke dalam hubungan kekerabatan yang lebih luas atau ke hubungan yang menunjukkan rasa saling menghormati, yakni menganggap orang lain sebagai saudara. Oleh karena itu, dalam korpus-korpus Indonesia, kata dulur digunakan dalam beragam kondisi.

Dalam korpus web Indonesia (IndonesianWaC) yang terdapat di Sketch Engine (https://www.sketchengine.eu/), terdapat satu kalimat yang menggunakan kata dulur sebagai nama prasasti. Kita bisa lihat pada kalimat “Muncul pula prasasti Munggu Antan tahun 887 atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi dan prasasti Poh Dulur tahun 890 atas nama Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra.” Menurut Farina, dkk. (2014) dalam tulisannya yang berjudul “Prasasti Poh Dulur 812 Śaka: Sebuah Analisis Kritis”, Prasasti Poh Dulur merupakan prasati yang berangka tahun 912 Saka. Prasasti ini berasal dari Mataram Kuna. Prasasti ini merupakan pembayaran rama Poh Dulur kepada raja bersama tamu, seruan mematuhi sima, dan hukuman apabila melanggar. Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kata dulur masih berkenaan dengan sebutan kepada seseorang.

Sementara itu, dalam korpus Leipzig (https://corpora.uni-leipzig.de/), kata dulur hampir rata-rata digunakan sebagai sebutan dan sapaan. Dalam KBBI, sebutan adalah ‘sesuatu yang disebut atau disebutkan; panggilan; nama; gelar’. Kita bisa lihat pada kalimat “Modal utama yang menjadikan masing-masing perbedaan tetap dapat menyatu adalah karena pemahaman bahwa kita semua ini adalah dulur.”

Sementara itu, sapaan adalah ‘kata atau frasa untuk saling merujuk dalam pembicaraan dan yang berbeda-beda menurut sifat hubungan di antara pembicara itu, seperti Anda, Ibu, Saudara’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia daring). Berikut kalimat yang mengandung sapaan dulur dalam korpus Leipzig.

(1) Mohon maaf dan terima kasih pada semua dulur, rekan, sahabat dan murid semua.

(2) Ayo dulur, olahraga bersepeda biar warga Sidoarjo makin sehat.

Di Korpus Leipzing ini, terdapat 158 kalimat yang menggunakan kata dulur. Kalimat tersebut ditulis oleh pengguna bahasa Indonesia yang tersebar di berbagai media massa lokal, seperti www.surya.co.id, www.pikiran-rakyat.com, dan viva.co.id. Tidak hanya media massa, web perguruan tinggi juga menggunakan kata ini, seperti unidar.ac.id, unmer.ac.id, um.ac.id, dan usd.ac.id.

Web pemerintah berupa www.menkokesra.go.id juga menggunakan kata ini dalam artikelnya. Artinya, pengguna bahasa Indonesia sudah banyak menggunakan kata ini. Sudah sepatutnya dalam KBBI daring dimasukkan contoh kalimat yang menggunakan kata ini. Kelak kita jadi tahu bahwa kata dulur bukan lagi kata yang berasal dari bahasa Jawa, melainkan sudah menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia. (*)

Ria Febrina, Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top