Satu Abad NU, Kembangkan “Mabadi Khaira Ummah” untuk Pemberdayaan Umat

Satu Abad NU, Kembangkan "Mabadi Khaira Ummah" untuk Pemberdayaan Umat

Jakarta, cagak.id–Nahdlatul Ulama sudah membangun perekonomian sejak tahun 1938 melalui Syirkah Muawanah, Koperasi Saling Membantu, yang diinisiasi KH Mahfudz Shiddiq. Hal tersebut didasarkan pada tiga prinsip untuk menjadi umat terbaik, yaitu kejujuran (al-shidqu), amanah dan memenuhi janji (al-amanah wal wafa bil ahdi), dan saling membantu (al-taawun).

“Ini semacam corporate culture, gerakan ekonomi umat 1938,” ujar Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan pada Malam Anugerah Satu Abad NU di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (31/1/2023).

Mabadi khaira ummah itu, lanjut Wapres, dikembangkan menjadi lima. Tiga hal tersebut ditambah dua hal lain, yakni keadilan (al-adalah) dan konsisten (al-istiqamah).

“Ini saya kira perlu dikembangkan lagi sehingga menjadi kekuatan dan upaya pemberdayaan agar umat NU menjadi umat kuat,” katanya.

Selain itu, katanya, NU juga perlu melakukan perbaikan untuk tanah air. Sejak dahulu, NU memang dan senantiasa menjadikan cinta tanah air bagian dari iman sebagai salah satu prinsipnya.

“Karena itu, mars ya lal wathan itu terus digaungkan sebagian suatu spirit yang harus kita bangun dalam rangka mencintai tanah air,” katanya.

Perbaikan terhadap tanah air juga dilakukan dengan senantiasa menjaga negeri dari segala macam bentuk penjajahan yang berupaya merusak dan memecah belah bangsa.

“Ini bagian daripada tugas NU,” kata Mustasyar PBNU itu.

Disampaikannya, perbaikan yang dilakukan NU ini penting dalam rangka menguatkan negara di dalam pembangunan menuju Indonesia yang lebih maju dan cita-cita Indonesia Emas 2045 nanti. Di tingkat global, NU juga harus mengambil upaya perbaikan. Sebab, Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Bahkan pendirian NU juga tidak ditujukan bagi segenap Nahdliyin atau bangsa Indonesia saja, melainkan untuk dunia juga. Hal ini tampak dari lambang NU yang menunjukkan simbol bumi dengan huruf dlad dari kata Nahdlah yang melintangi bumi itu. Artinya, kelahiran NU mempunyai misi kesejagatan.

“Tulisannya itu, dlad-nya itu mengelilingi dunia. Jadi istilahnya itu men-dlad-kan dunia. Dlad itu ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah rahmatan lil alamin,” pungkasnya.

Penghargaan untuk tokoh dan pesantren

Sebagai rangkaian peringatan Satu Abad NU diberikan penghargaan kepada tokoh dan pesantren yang berjasa dan berkontribusi bagi kemajuan negara dan peradaban umat. Penghargaan sekaligus sebagai wujud terima kasih atas dedikasi dan perjuangan para tokoh dan pesantren, tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan perkembangan Nahdatul Ulama tapi juga bagi perubahan dan perkembangan peradaban.

Ada sejumlah kategori penghargaan, antara lain: Lembaga dan Individu Internasional, Tokoh Nasional untuk Jasa dan Kontribusinya bagi Negara, Kategori Pesantren Berusia Satu Abad, Kategori Pengabdi Sepanjang Hayat, Kategori Pejuang NU Sub Kategori Penandatangan Naskah Pendirian NU, Pejuang NU Sub Kategori Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, dan Pejuang NU Sub Kategori Rais ‘Aam.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas hadir membacakan penerima kategori penerima penghargaan kategori Pesantren Berusia Satu Abad. Menag menyampaikan apresiasinya kepada penerima penghargaan dan berharap kiprah dan jerih payah para pejuang tetap dapat terus dilanjutkan.

“Saya bagian kecil dari pondok pesantren telah berbangga hati kepada bapak ibu sekalian yang telah menjaga pesantren dan tetap memberikan pengabdian terbaiknya kepada agama, umat dan negara khususnya,” terang Menag.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa kegiatan hari lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama dirancang bukan hanya menggambarkan satu abad kiprah NU tapi juga bagaimana kinerjanya pada perjalanan abad ke-2.

“Pada peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama, kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya terkait capaian Nahdatul Ulama 1 abad ini, namun juga bagaimana pokok-pokok akidah yang akan dilaksanakan pada waktu yang akan datang,” ujar Gus Yahya, panggilan akrabnya.

Kegiatan Anugerah Satu Abad NU ini dihadiri juga oleh Presiden ke 5 Indonesia Megawati Soekarno Putri, Ibu Negara Ke 5 Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, para Menteri Kabinet Indonesia Maju dan Para Tokoh Nahdatul Ulama. (CGK)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top