Sampah di TPAS Sungai Andok Tak Lagi Berbau, Pemko Padang Panjang Ungkap Rahasianya

Kondisi TPAS Sungai Andok, Padang Panjang
Pemko Padang Panjang ungkap rahasia sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Sungai Andok yang kini sudah tidak lagi berbau.
Biasanya, aroma busuk dari dampak penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Sungai Andok kerap kali menusuk hidung warga yang melintas, baik di kawasan tersebut maupun sekitarnya.
Hal ini ternyata berkat penelitian yang dilakukan Ridho Fermana Kusuma, warga Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat yang telah melakukan riset dan penelitian bersama Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) selama kurun waktu tiga tahun dan diujicobakan pada November tahun lalu.
Ridho Fermana Kusuma mengatakan teknik pengurangan bau sampah yang didapatkan setelah melakukan penelitian selama tiga tahun tersebut dinamakannya teknik penggunungan.
“Dulu, sampah yang dibawa dump truck atau truk sampah ke TPAS, langsung ditumpuk-tumpuk dan sekarang teknik itu diubah dengan cara digunung-gunungkan,” ujarnya.
Sehingga dikatakannya, dulu sampah yang ditumpuk itu akan padat dan menghasilkan gas NH3, H2S (Hidrogen Sulfida) serta gas Metana yang menimbulkan bau tidak sedap.
“Setelah dengan teknik penggunungan ini, sampah yang telah digunungkan tersebut akan lebih banyak dapat menyerap oksigen sehingga menghasilkan gas CO2 dan H2O. Hal inilah yang dapat mengurangi bau yang tidak sedap dari TPAS,” ujar Ridho, Rabu 4 Januari 2023.
Ridho menjelaskan dari teknik penggunungan sampah ini, banyak sekali dampak positif dan manfaat yang didapat, baik dari segi waktu, lingkungan maupun efisiensi dalam bekerja.
“Salah satunya, alat berat yang bekerja dapat lebih mudah dalam memindahkan sampah dan populasi lalat dapat dikendalikan dengan sudah adanya hewan seperti burung yang beterbangan untuk bermain dan mencari makan di TPSA,” katanya.
Selain itu, dikatakannya banyak sekali manfaat yang didapat dengan teknik penggunungan ini, salah satunya, dari segi lingkungan jadi lebih terjaga dan burung-burung sudah bermain dan mencari makan ke sini seperti burung Balam, Walet, Sriti, Pipit dan lainnya.
“Hal ini juga dapat menekan perkembangbiakan lalat di TPSA, dan dapat mempercepat sampah organik untuk menjadi kompos,” ujar Ridho.
Menurut informasi, sebelum adanya metode penggunungan sampah ini, bau tidak sedap yang dihasilkan sampah yang menumpuk di TPAS bisa tercium hingga radius 2 km dari lokasi.
“Apalagi ditambah dengan cuaca Padang Panjang yang sering hujan dan cenderung lembab pada sore hari menjelang masuknya waktu Magrib, ini juga menambah bau busuk yang dihasilkan dari TPSA,” kata Ridho Fermana Kusuma.
Lebih lanjut, dijelaskannya bahwa dulu bau sampah di TPSA ini sudah sampai ke Kelurahan Silaing Bawah, Kampung Manggis dan Silaing Atas dengan radius 2 km dari lokasi.
“Alhamdulillah setelah kita terapkan teknik penggunungan ini, selama kurang lebih dua bulan tidak ada lagi bau busuk yang keluar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkim LH, Alvi Sena, M.T menyambut baik dan mengapresiasi atas penelitian yang telah dilakukan sehingga dapat mengurangi bau sampah yang muncul dari TPAS.
“Ini sangat baik sekali, khususnya untuk lingkungan di sekitar TPAS karena kalau dulu kita keluar dari sini bau itu bisa menempel ke baju dan harus diganti sampai di rumah tapi sekarang untuk menghirup udara saja sudah lepas, sudah tidak terlalu bau lagi sampahnya dan kalaupun ada bau, itu palingan sampah yang baru datang,” kata Alvi Sena.
Ia berharap ke depannya TPAS ini dapat menjadi salah satu eduwisata di Kota Padang Panjang dan pihaknya pun juga berencana untuk menjadikan TPAS sebagai salah satu pusat pengolahan pupuk kompos terbesar khususnya di Sumatera Barat bahkan tidak tertutup kemungkinan di Indonesia.
“Di sini kita juga memiliki tempat pengolahan pupuk kompos yang berpusat di TPAS. Ini bisa menjadi salah satu eduwisata di Kota Padang Panjang dengan tempat pengolahan kompos terbesar sehingga nanti orang-orang bisa belajar cara membuat kompos di sini,” ujarnya.
Kemudian menurutnya TPAS juga bisa jadi tempat pembuatan eco enzym dan pelatihan untuk mengembangbiakan maggot karena pihaknya juga sedang berusaha untuk plastik yang tidak bisa diolah, bisa menjadi nilai jual.
“Kami juga tengah meneliti apa saja yang bisa dihasilkan dari sampah ini,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top