Rombongan KSP Bertemu Wako Hendri Septa di Padang, Ini Pembahasannya

Wali Kota Padang Hendri Septa saat menyambut kedatangan rombongan KSP usai polemik cagar budaya di Padang

Padang, cagak.id Sejumlah pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) datang ke Padang pada Rabu 1 Maret 2023 dan bertemu dengan Wali Kota Padang Hendri Septa di Rumah Dinas Wali Kota Padang yang terletak di Jalan A. Yani, Kota Padang.

Dalam kesempatan tersebut, selain bersilaturahim dengan Wali Kota Padang Hendri Septa, rombongan KSP juga memuji gerak cepat Pemko Padang mengatasi polemik peruntuhan cagar budaya di Padang. 

Rombongan dari KSP ini pun terdiri dari Nuraini (Tenaga Ahli Madya Kedeputian II), Mastius Pharmata (Tenaga Ahli Muda) dan Aminudin Hadi Nugroho (Tenaga Terampil).

Tenaga Ahli Madya Kedeputian II KSP Nuraini mengatakan bahwa tujuannya datang ke Kota Padang agar persoalan serupa yaitu perobohan/perusakan bangunan cagar budaya tidak terulang lagi, mengingat kasus peruntuhan rumah singgah Bung Karno di Padang beberapa waktu lalu tersebut.

“Apapun langkah selanjutnya, KSP mendorong agar terjadi musyawarah dan duduk bersama dalam mengambil keputusan dan silahkan libatkan para ahli yang betul-betul memahami substansi terkait cagar budaya dan pengelolaannya, termasuk soal rencana niatan pemilik bangunan untuk membangun kembali serta kita juga mengapresiasi langkah cepat Pemko Padang menyikapi hal ini,” katanya.

Selain itu, Nuraini juga mengaku mendukung segala keputusan dan tindak lanjut penyelesaian kasus ini oleh pemerintah kota setempat.

Wali Kota Padang Hendri Septa mengatakan dirinya menyambut baik atas adanya kunjungan dari sejumlah pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) ke Kota Padang.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Padang, kita berterima kasih sekali kepada bapak ibu dari Kantor Staf Presiden yang telah mengunjungi kami, sekaligus mendukung upaya perlindungan cagar budaya di Kota Padang,” ujar Hendri Septa. 

Seperti diketahui, terkait rumah singgah Bung Karno yang berada di Jalan Ahmad Yani Nomor 12, Kelurahan Padang Pasir, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang tersebut, kini memang telah rata dengan tanah. 

Di sanalah tercatat dalam sejarah bahwa Bung Karno sempat menetap di ranah Minang selama tiga bulan dikarenakan sesuatu hal pada tahun 1942 silam dan bangunan itu pun didirikan tahun 1930 dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya di Kota Padang dengan No. Inventaris 33/BCBTB/A/01/2007. 

Seiring berjalannya waktu terus terjadi peralihan pemilik lahan dari rumah tersebut dan bahkan sempat dijadikan sebuah kafe bernama Tiji Cafe, dimana sekarang kafe tersebut sudah tidak beroperasi lagi.

Hendri Septa menjelaskan bahwa belakangan ini pemilik lahan merobohkan bangunan tersebut lantaran untuk direnovasi dan ia pun mengaku tidak mengetahui bangunan yang dimilikinya itu salah satu cagar budaya.

“Sebagai upaya atau langkah selanjutnya Pemko Padang telah mengarahkan pemilik lahan untuk dapat membangun ulang bangunan yang diruntuhkan lebih kurang sebulan belakangan itu dan bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Padang Nomor 3 Tahun 1998 tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya dan Kawasan Bersejarah di Kotamadya Padang,” katanya.

Sementara itu, ia berharap kejadian ini tidak terulang lagi pada cagar budaya yang lain sebagaimana cagar budaya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Aturan tersebut mengamanatkan bahwa pemilik atau pihak yang menguasai sebuah bangunan cagar budaya bertanggungjawab akan kelestariannya.

“Alhamdulillah, kita bersyukur pemilik lahan bersedia untuk membangun kembali rumah itu. Tentunya dengan tetap merujuk bentuk bangunan yang lama dan juga dibuatkan cerita atau simbol-simbol yang menandakan bahwa Presiden Soekarno pernah tinggal di sana,” ujar Wali Kota Padang.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang Yopi Krislova mengatakan Pemko Padang sebelum gempa 2009 silam sudah membuat palang penanda bahwa rumah tersebut merupakan cagar budaya yang pernah ditempati Bung Karno. 

“Namun setelah gempa ada beberapa palang penanda cagar budaya yang hancur dan belum diperbaiki kembali. Nanti akan kita buatkan kembali,” kata Topi Krislova.

Dikatakannya bahwa untuk pembangunan kembali rumah singgah Bung Karno, dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan untuk duduk bersama dengan sejumlah pihak terkait sekaligus dengan pemilik lahan.

“Semoga nanti terciptanya hasil dan kesepakatan bersama terkait seperti apa bentuk rumah yang akan dibangun beserta atribut pendukungnya. Kita ingin nilai-nilai cagar budayanya tetap ada,” ujar Kadisdikbud Kota Padang. (ADE)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top